Selasa, 14 Desember 2021

PAI KONTEMPORER

 


Mata kuliah ini diampu oleh beliau Dr. M. Fahim Tharaba, M.Pd

Dosen saya yang satu ini sungguh luar biasa.

Pribadinya lossss doll..

Saya sangat like jika pengajar itu bermodel seperti beliau.

Satu kata yang sangat berkesan, teringat sampai kapanpun “Yooo” + emo-emo comelnya..

 

Banyak hal yang kami bahas dalam perkuliahan ini, antara lain :

Tentang radikalisme.

Membahas perkara radikalisme sebenarnya sangat menarik, membuat hati dan pikiran menjadi lebih hidup, karena diakui atau tidak bahwa salah satu penyebab gerakan radikalisme adalah faktor sentimen keagamaan, termasuk di dalamnya adalah solidaritas keagamaan untuk kawan yang tertindas oleh kekuatan tertentu.

Beberapa fenomena yang terjadi, khususnya dinegara kita ini yang namanya radikalisme itu identic dengan Agama Islam, ada bom di gereja A, ada bom dipulau B, ada teror disana-sini yang disana KTP pelaku dituliskan beragama islam mau tidak mau islam juga terkena imbasnya.

Walaupun ada pernyataan dari beberapa tokoh pemuka Agama Islam yang menyatakan bahwa radikalisme, terorisme bukan ajaran islam, tapi tidak bisa dipungkiri bahwa mereka semua adalah orang yang beragama islam, tapi sebenarnya mereka adalah korban dalam sentiment keberagamaan.

Menelan segala sesuatu apa adanya, mentah-mentahan. Ibarat kata, kalau mau makan kelapa ya dikupas dulu, diparut dijadikan santan, enak dibuat bumbu sayur.

Tapi mereka yang sudah taqlid buta pada imamnya ini sudah gelap mata. Mau makan kelapa ya langsung dimakan sama batok dan sepetnya, ini bodoh namanya.

Ada beberapa polemik bagi saya terkait “CAP” radikal untuk mereka yang mungkin berbeda imam dengan saya.

Yang pertama,.Jika ada sebuah kelompok yang anggotanya diberi titah untuk meledakkan bom bunuh diri (anggotanya saja yang bunuh diri, pimpinannya tidak) itu merupakan kelompok radikal?.

Yang kedua, Apakah kelompok atau individu yang sering menuding kafir, atau menyalahkan praktek ibadah orang lain yang berbeda dengan praktek ibadah yang dia lakukan, bisa dikatakan radikal?

Ataukah radikal adalah yang memaksakan kehendaknya kepada orang lain dengan kekerasan fisik dan Verbal?

Mungkin teman-teman yang membaca coretan ini dapat memberikan masukannya.

 

Kemudian tentang kemajuan teknologi.

Diakui ataupun tidak Internet sangat luar biasa.

Ia telah mengubah cara pandang orang-orang terhadap kehidupan.

Dalam aktifitas apapun termasuk didalamnya aktivitas belanja. Kini belanja bisa dilakukan di mana saja berkat banyaknya platform jual beli di internet. Semakin ke sini pula, semua produk semakin mudah didapat karena perusahaan e-commerce terus memutakhirkan layanan di platformnya.

Terdapat beberapa perbedaan dalam proses jual beli secara konvensional dan jual beli secara online salah satunya adalah “MUTU PRODUK YANG DITRANSAKSIKAN”, jika proses konvensional sangat mudah untuk mengetahuinya karena disana berprinsip ada uang ada barang, namun bagaimana dengan proses jual beli secara online yang notabene konsumen belum melihat barang yang akan ditransaksikan?

Selebihnya saya sangat sepakat perbisnisan online ini digalakkan, karena sebagai salah satu pemerataan ekonomi juga, bayangkan sekitar 10-15 tahun yang lalu, perbisnisan, perniagaan hanya dikuasai oleh perusahaan itu-itu saja, dan sekarang perusahaan-perusahaan tersebut banyak yang harus berbagi rezekinya dengan emak-emak berdaster, luar biasa bukan.

Dan beberapa waktu terakhir ini didunia “maya” sudah berkembang tanpa dapat di tahan perkembangannya bisnis-bisnis virtual yang sangat sulit dijelaskan atau diterima oleh akal sehat begitu saja.

Yang terbaru adalah mata uang virtual sejenis BTC atau bitcoin yang harga 1 koinnya berates-ratus juta.

Sebelumnya ada bisnis investasi online seperti UI, MMM, JSS, JBP, trading forex dan masih banyak lagi yang lainnya.

Sepuluh tahun yang lalu saya bahkan pernah bergabung dengan salah duanya, namun dikarenakan hal ini dan itu walhasil berakhir scam.

Tapi kita tidak boleh menutup mata dengan perkembangan semacam ini, kita sebagai generasi milenial harus siap dengan tantangan yang ada pada masa 4.0 ini karena sebentar lagi kita pun akan menyambut masa 5.0 seperti pada materi yang disampaikan pada modul terdahulu.

 

Kemudian, saya sangat ingin mengajak rekan-rekan yang membaca coretan ini untuk berdiskusi beberapa hal, antara lain :

Yang pertama, saya akan mengajak teman-teman untuk berbicara tentang gender.

Kalimat utama dalam gender adalah kesetaraan.

Sejauh yang saya pahami kesetaraan gender bukan berarti menuntut perempuan untuk menjadi sama dengan lelaki, tetapi mendukung perempuan dan lelaki agar mendapat kesempatan untuk ada dalam posisi yang sejajar dalam beberapa hal yang tidak bertentangan dengan syariat Aama.

Namun diakui maupun tidak, fakta dilapangan lebih banyak menempatkan perempuan berada pada posisi kedua setelah laki-laki, dalam banyak hal, walaupun banyak statemen dari para pakar utamanya pakar gender yang sudah menjelaskan secara rinci bahwa posisi seorang laki-laki dan perempuan itu sama, yang membedakan dihadapan Tuhan adalah Iman dan Taqwanya.

Namun ada aspek kultur patriarki yang selalu memposisikan perempuan pada second line dalam banyak keadaan, utamanya dikalangan menengah kebawah.

Menanggapi fenomena tersebut diatas, bagaimana cara menyampaikan dengan bahasa yang sesederhana mungkin supaya masyarakat awam paham akan pentingnya kesetaraan gender ini ? karena terjun langsung dalam lingkungan masyarakat itu sedikit agak berbeda dengan teori fakultatif.

 

Yang kedua, berbicara tentang cadar. Saya bukan orang yang fanatik tidak menyukai/menerima jika ada muslimah yang memakai cadar, dan juga bukan pendukung bahwa seorang muslimah harus bercadar. Namun sejauh pengetahuan saya, kita sebagai seorang muslim harus menjaga aurat demi kemaslahatan baik diri kita sendiri maupun khalayak.

Dan dewasa ini memakai cadar itu identik dengan kalimat hijrah.

Sedikit yang ingin saya haturkan adalah bahwa dikhalayak tidak sedikit masyarakat yang memaknai bahwa hijrah itu ya memakai pakaian yang serba longgar, blus panjang, bahkan sampai bercadar, dan yang kelihatan cuma kelopak matanya saja.

Padahal, hemat saya hijrah itu sebuah usaha dari hati untuk menjadi lebih baik.

Bagaimana sahabat-sahabt sekalian menanggapi fenomena ini?

 

Yang ketiga, terkait tentang LGBT bagi saya sebenarnya rasanya gimana gitu, Naudzubillah semoga kita, keluarga kita, keturunan kita tidak ada yang sedemikian, saya mempunyai pertanyaan ringan terkait hal ini yakni dapatkah saya mengetahui apa bedanya mereka yang masuk dalam kategori LGBT ini?

Karena kita juga tidak bisa semudahnya menganggap mereka (laki-laki) yang feminism masuk dalam kategori ini.!


Catatan akhirya bahwa Penddikan Agama Islam tidak hanya berkutat pada perkara-perkara jadul.

Tapi Pendidikan Agama Islam selalu berkembang, menyesuaikan dengan kebutuhan ke-kinian.

So...

Berbicara Agama tidak melulu bicara tentang dalil.Jzk

Selasa, 07 Desember 2021

EVALUASI PEMBELAJARAN

 


Merupakan materi keempat yang diampu oleh beliau Ibu Dr. Elly Susanti, M.Sc

Berikut sekilas catatan saya terkait dengan materi ini.

 

Materi evaluasi pembelajaran adalah materi yang sangat penting untuk kita kuasai.

Dalam materi ini terdapat beberapa hal yang dibahas yakni antara lain:

1.      konsep dan penerapan pengukuran, penilaian, tes dan evaluasi pembelajaran,

2.      Penerapan penilaian authentik,

3.      pengembangan dan pengolahan tes hasil belajar, dan

4.      pelaksanaan program tindak lanjut.

Sangat penting bagi saya dalam mempelajari materi ini karena mengingat saya sebagai pendidik atau guru di dalam pembelajaran harus melakukan evaluasi pembelajaran, antara lain untuk mengetahui  kemajuan perkembangan siswa dalam belajarnya dan menunjang penyusunan rencana pembelajaran berikutnya serta memperbaiki pembelajaran yang ada, selain itu dalam rangka mengetahui dan memenuhi kebutuhan psikologis, didaktik dan administratif.

 

Selengkapnya, dalam mempelajari evaluasi pembelajaran ini diharapkan saya akan mamiliki kemampuan untuk menguasai materi  evaluasi pembelajaran sebagaimana dalam Capaian Pembelajaran   dan Sub Capaian Pembelajaran.

 

Dalam kegiatan pembelajaran yang pertama, saya mengambil sebuah kesimpulan bahwa dalam evaluasi pembelajaran terdapat tiga hal penting yang tidak bisa dipisahkan. tiga hal tersebut yaitu Tes, pengukuran, dan Penilaian.

 

Tes bisa dengan wawancara, Pilihan Ganda ataupun Uraian atau dengan beberapa model lainnya, kemudiaan diberikan pengukuran terhadap hasil dari tes tersebut (hasil tersebut masih hasil mentah atau kuantitatif) dilakukan pengelolaan skor supaya menjadi nilai yang berkualitas.

Kemudian jika hasil dari penilaian tersebut sudah bagus, maka tindak lanjutnya adalah ditingkatkan ke level yang lebih tinggi lagi,

 

Namun jika hasilnya masih kurang ataupun jauh dari yang diharapkan, maka perlu adanya solusi supaya siswa dapat mencapai target yang diharapkan. Dan kita sebagai guru harus seobjektif mungkin dalam memberikan penilaian tersebut.

 

Selanjutnya terdapat sebuah opini dalam video bahwa penilaian yang dilakukan pada zaman dahulu yang dilaksanakan secara mereka-reka,.

 

Bahkan penilaian ini mungkin yang dulu diberikan oleh beliau-beliau guru kita ketika menilai diri kita ketika kita sekolah dulu. Dan itu real, bahkan ada dari beberapa subjek beliau guru yang memberikan nilai bukan hanya mereka-reka biasa saja, tapi banyak diantara beliau-beliau itu yang menilai berdasarkan kecenderungan subjektifitas, banyak faktornya, mungkin karena takut sama orang tuanya, mungkin karena masih saudaranya, dan lain sebagainya.

 

Nah ini sangat menjadi masalah karena ternyata tidak bisa objektif, penilaian sekehendak guru saja.

 

Hal ini cenderung berbalik dengan teori yang sekarang ada dalam penilaian, yakni penilaian autentik , yang mana disitu ada fakta-fakta proses penilaian dalam pembelajaran.

 

Namun saya pun juga ragu, apakah penilaian ini juga dapat 100 % objektif dalam pelaksanaannya?

 

Kemudian, saya mencoba melihat kedunia nyata, tapi semoga tidak keluar dari materi yang kita bahas.

 

Dalam suasana pandemi seperti yang kita alami saat ini, pembelajaran kita lakukan secara daring.

 

Ada sebuah polemik yang terjadi dilapangan, yakni dulu ketika kita belum melakukan pembelajaran dan penilaian secara daring, masih pembelajaran tatap muka ada anak yang kemampuannya biasa-biasa saja (dan ini bisa kita buktikan secara langsung), bahkan ketika penilaian nilainya selalu dibawah KKM dan harus selalu diberikan remidi dalam setiap KD yang dipelajari.

 

Namun ketika dilakukan pembelajaran secara daring anak tersebut dilihat dari hasil nilainya berbalik seratus delapan puluh derajad.

 

Dia selalu melawati batas minimum, bahkan dapat dikategorikan dalam skala A.

Bagaimanakah sikap bijak seorang guru dalam menghadapi perihal semacam ini ?

Hal yang tidak menyalahi prosedur dan tetap bisa objektif?

Nah, hal tersebut diatas adalah beberapa hal yang harus dicarikan solusinya secara objektif.

 

Sebagai catatan akhir, Bu Dr Elly ini sangat luar biasa dalam penyampaian materi, detil sekali dari ujung kuku sampai ujung rambut.

Dan Alhamdulillah untuk masalah nilai (walaupun bukan prioritas utama bagi saya) nilai saya untuk mata kuliah beliau selalu maksimal.

Terimakasih ibu…

  

M. Bakhyul Khayi

Senin, 06 Desember 2021

PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK


Mata kuliah yang ketiga ini diampu oleh beliau Dr. H. Syuhadak, M.A

Secara umum, perkembangan dapat didefinisikan sebagai perubahan yang progesif dan berkesinambungan yang terjadi di dalam diri individu mulai dari lahir sampai mati, baik menyangkut fisik maupun psikis. Istilah perkembangan biasanya tidak dipisahkan dari pertumbuhan dan kematangan. Pertumbuhan lebih pada aspek fisik dan biologis, sementara kematangan merupakan puncak dari pencapaian dari proses pertumbuhan dan perkembangan.

Kemudian yang dimaksud peserta didik sebagaimana yang tertuang dalam UU No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yakni setiap manusia yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran pada jalur pendidikan baik pendidikan formal maupun pendidikan non formal, pada jenjang pendidikan dan jenis pendidikan tertentu.

Peserta didik merupakan raw material (bahan mentah dalam proses transformasi pendidikan karena ia akan dididik sedemikian rupa sehingga menjadi manusia yang mempunyai intelektual tinggi dan akhlak yang mulia.

Psikologi Perkembangan Peserta Didik merupakan bidang kajian psikologi perkembangan yang secara khusus mempelajari aspek-aspek perkembangan individu yang berada pada tahap usia sekolah dasar dan menengah (Desmita, 2012). Proses perkembangan dengan proses belajar mengajar memiliki hubungan yang erat. Sebagaimana pendapat Syah (2003) bahwa keduanya memiliki benang merah yang erat sehingga hampir tidak ada proses perkembangan siswa baik jasmani maupun rohaninya yang sama sekali terlepas dari proses belajar mengajar sebagai pengejawantahan proses pendidikan. Apabila fisik dan mental sudah matang, panca indera sudah siap menerima stimulus-stimulus dari lingkungan, berarti kesanggupan siswa pun sudah tiba.

Menurut Djamarah (2002) bahwa salah satu penyebab utama kegagalan seorang guru dalam menjalankan tugas mengajar di depan kelas adalah kedangkalan pengetahuan guru terhadap siapa anak didiknya dan bagaimana cara belajarnya, sehingga setiap tindakan pembelajaran yang diprogramkan justru lebih banyak kesalahan daripada kebenaran dari kebijakan yang diambil. Winkel (2009) menyimpulkan kaitan antara belajar dan perkembangan bahwa belajar melandasi sebagian besar dari perkembangan. Yang sebagian besar meliputi perkembangan psikis/mental dalam berbagai aspeknya. Selain itu, adanya tahap perkembangan tertentu, berpengaruh terhadap apa yang dapat dipelajari dan dengan cara bagaimana harus dipelajari.

Apalagi saat ini, telah datang sebuah generasi dimana segala hal yang bersifat maya akan terlihat virtual karena kecanggihan teknologi. Para peserta didik kini lebih mudah mengakses segala informasi tanpa terbatas. Informasi dapat berpindah dari satu tempat ke belahan dunia lain dalam waktu yang sangat singkat menggunakan internet. Begitu pula dengan produk kecanggihan teknologi yang lain bernama “game” yang kini menyerang peserta didik kita, bahkan membuat mereka kecanduan. Dalam beberapa kasus, hal itu bisa mempengaruhi perkembangan mereka mulai dari fisik psikomotorik, emosi dan sosial, moral dan spritual serta menghambat perkembangan kognitif mereka.

Dalam pendidikan Islam, menurut Muhtar Yahya (Arief, 2002) bahwa salah satu prinsip penggunaan metode pendidikan Islam adalah Mura’tul Isti’dad Wa Thab’i dimana sebuah prinsip yang sangat memperhatikan pembawaan dan kecenderungan anak didik. Dengan memperhatikan prinsip ini, maka metode yang digunakan pun adalah metode yang dapat disesuaikan dengan pembawaan dan kecenderungan tersebut.

Oleh karena itu, penting bagi para pendidik untuk dibekali pengetahuan tentang perkembangan peserta didik. Secara khusus, dapat dijelaskan manfaat perkembangan peserta didik, yakni:

1        Pendidik mampu memahami bahwa setiap peserta didik berbeda sehingga dapat dilakukan pendekatan yang tepat sesuai dengan karakteristik perkembangannya.

2        Pendidik dapat memahami aspek-aspek perkembangan peserta didik dan mampu mengaplikasikan model pembelajaran yang tepat berdasarkan aspek-aspek perkembangan peserta didik tersebut.

3        Pendidik dapat memahami dan mampu membuat perangkat evaluasi berdasarkan pertimbangan perkembangan peserta didik.

4        Studi perkembangan dapat membantu pendidik memahami diri sendiri. Hal itu disebabkan karena para pendidik juga mendapatkan wawasan dan pemahaman perjalanan hidup sesuai yang dijalaninya mulai kanak-kanak sampai dewasa.

 

Hal yang sangat penting berikutnya adalah bahwa yang bertanggungjawab terhadap keberlangsungan proses pendidikan yang pertama adalah keluarga, dalam hal ini orang tua, namun secara formal lembaga sekolah berperan penuh terhadap keberhasilan proses pendidikan yang dijalankan. Jadi keluarga mendukung proses pembelajaran baik di pendidikan usia dini, dasar, menengah dan seterusnya.

Nah, kalau ada orangtua yang berpikiran bahwa pendidikan itu seratus persen adalah tanggungjawab pihak lembaga sekolah ini jelas tidak bisa dibenarkan secara mutlak.

Karena sekolah 100 persen bertanggungjawab dari segi formalitas, untuk sisi yang lain harus berkolaborasi dengan orang tua dan masyarakat.

Pola pikir seperti ini jika dibiarkan saja, maka semakin lama akan tumbuh pemikiran dari masyarakat bahwa orang tua hanya berperan memberikan materi kepada anaknya dan untuk hal-hal yang lain utamanya yang berkaitan dengan proses asupan ilmu pengetahuan adalah tanggungjawab lembaga pendidikan.

Dan endingnya, jika anaknya tidak mendapatkan hasil yang orangtua inginkan ketika bersekolah dilembaga tersebut, maka lembaga tersebutlah yang akan disalahkan.

 

Terkait dengan pendidikan karakter

Secara garis besarnya deskripsi tentang kondisi pendidikan karakter di Negara kita dalam menghadapai era baru sedang berusaha mewujudkan generasi milenial yang berkarakter yang mampu menyesuaikan diri dengan era globalisasi.

Saya kira semua sudah sangat paham bahkan memahami bahwa globalisasi sudah merambah kedalam semua lini, kedalam semua sendi kehidupan.

Mudahnya mendapatkan akses media sosial sebagai salah satu ciri khas era 4.0 yakni menggunakan media internet dalam kehidupan.

Sangat banyak sisi positifnya, namun juga tidak sedikit sisi negatifnya.

Pergaulan bebas.

Transaksi hal-hal terlarang dan masih banyak efek negatif lainnya.

Semua orang seakan merasa bangga ketika dengan mudah mendapatkan akses internet. Walaupun dilihat dari sisi penggunaanya terkadang bukan pada hal yang penting.

Penyebaran berita-berita hoaks pun sangat sulit untuk diminimalisirkan.

Ini adalah PR buat kita bersama sebagai salah satu kepanjangtanganan untuk menyampaikan pesan moral kepada generasi kita, jika ingin generasi milenial yang dapat bersaing dengan Negara-negara yang lain.

Bukan hanya mengawal generasi-generasi hedonis, yang hanya akan menjadi sampah peradaban.

Karena kita semua punya harapan 10 tahun mendatang 70% generasi milenial mampu bersaing dan mampu membawa Negara kita dalam kemajuan.

Sebagai catatan terakhir dari mata kuliah ini :

Pretest saya mendapat nilai dibawah kkm, namun Alhamdulillah karena beliau pak dosen Dr. H. Syuhadak, M.A sangat sabar dan sangat luar biasa dalam menyampaikan materi dan memberikan pendampingan, maka pada test akhir modul nilai saya termasuk dalam kategori memuaskan.

Terimakasih yang tak terhingga saya haturkan untuk beliau Dr. H. Syuhadak, M.A, semoga kebaikan-kebaikan selalu Allah limpahkan kepada beliau. Aamiin…

Jumat, 17 Februari 2012

Tuhan Itu Menyesatkan ?


Dalam Al Qur’an ayat 93 surat An Nahl (16), Allah berfirman : ” Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja), tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan.” Ayat inilah yang dijadikan dasar kritik yang disampaikan oleh agama lain. Mereka mengatakan : ” Jangan mengikuti agama Islam, karena Tuhannya orang Islam itu menyesatkan.” Sebagai orang Islam tentunya tergelitik untuk menjawab masalah ini. Mengkaji Al Qur’an tidak boleh secara harfiah atau letterleg saja, tetapi harus mengkaji seluruh firman Allah didalam Al Qur’an atau Hadits Nabi. Apakah benar Tuhan itu menyesatkan ? Banyak orang mengatakan itu ranah Allah. Allah itu kan Maha Kuasa. Kalau ndak punya hak prerogative berarti Tuhan tidak kuasa dong ! Ndak mungkinlah…karena Tuhan itu Maha Adil, Tuhan itu Maha kasih dan Penyayang. Nah, coba perhatikan dialog antara Al Asy’ari dengan Al Jubbai (Harun Nasution, Teologi Islam, 1972).
Al Asy’ari : Bagaimana kedudukan ketiga orang berikut : mukmin, kafir dan anak kecil di akhirat ?
Al Jubbai : Yang mukmin mendapat tingkat baik dalam surge, yang kafir masuk neraka dan yang kecil terlepas dari bahaya neraka.
Al Asy’ari : Kalau yang kecil ingin memperoleh tempat yang lebih tinggi di surga, mungkinkah itu ?
Al Jubbai : Tidak, yang mukmin mendapat tempat yang baik itu karena kepatuhannya kepada Tuhan. Yang kecil belum mempunyai kepatuhan yang serupa itu.
Al Asy’ari : Kalau anak itu mengatakan kepada Tuhan : “ Itu bukan salahku. Jika sekiranya Engkau bolehkan aku terus hidup, aku akan mengerjakan perbuatan-perbuatan baik seperti ysng dilakukann orang mukmin itu.”
Al Jubbai : Allah akan menjawab : “ Aku tahu bahwa jika engkau terus hidup engkau akan berbuat dosa dan oleh karena itu akan kena hukuman. Maka untuk kepentinganmu Aku cabut nyawamu sebelum engkau sampai kepada umur tanggung jawab.”
Al Asy’ari : Sekiranya yang kafir mengatakan : “ Engkau ketahui masa depanku sebagaimana engkau ketahui masa depannya. Apa sebab engkau tidak jaga kepentinganku?”
Disini Al Jubbai terpaksa diam.
Pergulatan pemikiran tentang Takdir, Tuhan menyesatkan dan Keadilan Tuhan memang sejak dulu dan bahkan sampai sekarang. Perhatikan dalam dialog diatas. Mengapa Tuhan menyesatkan anak kecil tersebut dan kemudian Tuhan menolongnya dengan mencabut nyawanya ? Mengapa Tuhan mengijinkan lahir kalau toh si anak kecil nantinya sesat. Dan bagi yang kafir, Tuhan tentu mengetahui bahwa si anak kecil itu menjadi kafir. Kenapa tidak dicabut nyawanya pada waktu masih kecil. Kenapa kok Tuhan membiarkan anak itu menjadi kafir sampai akhir hayatnya. Apakah Tuhan itu tidak adil ? Tidak, Tuhan itu Maha Adil ? Tuhan tidak menyesatkan. Masalah ini harus bisa diselesaikan. Tentang keadilan Tuhan sudah dibahas di artikel sebelumnya “ Apakah Tuhan itu adil ? “ Kenapa anak kecil itu dilahirkan untuk menjadi sesat dan kemudian dicabut nyawanya ? Karena dosa-dosa yang diperbuat di kehidupan sebelumnya [QS Yasin (36) ayat 31 dan Al Maidah (5) ayat 5]. Ketika seorang anak dilahirkan itu suci karena tidak ada dosa di kehidupan sebelumnya, maka kemudian pada saat dewasa menjadi kafir. Apakah kejadian ini Tuhan yang menyesatkan ? Tidak mungkin Tuhan itu menyesatkan. Tuhan itu Maha Adil, Maha Kasih dan Penyayang. Bagaimana Tuhan Maha Kasih dan Penyayang kok menyesatkan orang ? Perhatikan hadits riwayat Abu Hurairah. Rasulullah bersabda : Allah Taala berfirman : Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku terhadap-Ku dan Aku selalu bersamanya ketika dia mengingat-Ku. Apabila dia mengingat-Ku dalam dirinya, maka Aku pun mengingatnya dalam diri-Ku. Apabila dia mengingat-Ku dalam suatu jemaah manusia, maka Aku pun mengingatnya dalam suatu kumpulan makhluk yang lebih baik dari mereka. Apabila dia mendekati-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekatinya sehasta. Apabila dia dating kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku akan dating kepadanya dengan berlari [ HR. Muslim]
Kalau manusia menjauhi Tuhan (kafir), maka Tuhan juga menjauhinya. Artinya kalau manusia mempunyai keinginan kafir, maka Tuhan akan membiarkannya kafir. Nah, siapa saja orang yang disesatkan oleh Tuhan artinya dibiarkan sesat dan tidak diberi petunjuk..
“ … dan Allah tidak member petunjuk kepada orang-orang dholim” [ QS Al Baqarah (2) ayat 258]
“… dan Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada orang-orang kafir” [QS Al Baqarah (2) ayat 264]
“… sesungguhnya Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada orang-orang pendusta dan sangat ingkar." [QS Az Zumar (39) ayat 3]
“… sesungguhnya Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada orang-orang yang berlebih-lebihan lagi pendusta". [QS Al Mu’min (40) ayat 28]
Ayat-ayat diatas menunjukkan bahwa ketika orang-orang menghendaki dholim, kafir, pendusta, ingkar dan orang-orang yang berlebihan, maka Allah akan membiarkan dholim, kafir, pendusta dan berlebihan serta ingkar. Saking rahman dan rahim-Nya, Allah mengabulkan permohonan atau membiarkan kafir orang-orang yang berkeinginan menjadi kafir dan demikian juga Allah meberikan hidayah kepada orang yang menghendaki hidayah. Sehingga berdasarkan ayat-ayat diatas dan hadits riwayat Abu Hurairah, maka pengertian “ Allah menyesatkan” dalam QS An Nahl [16] ayat 93 dapat di baca sebagai berikut. “ Allah berkehendak kepada orang-orang itu menjadi kafir ketika orang-orang itu yang menghendaki kafir”. Wa llahu ‘alam bish shawab.

Nabi Adam dan Hawa Telanjang ?

 Tuhan, murkakah Engkau bila aku berbicara dengan akal dan pikiran yang bebas, akal dan pikiran yang telah Engkau berikan kepadaku dengan kemampuan yang bebas sekali...? Tuhan, maklumi aku bila berani menyampaikan pikiran yang timbul dalam pikiranku dengan kejujuran.

Tatkala saya masih belum beranjak dewasa, sering mendengar cerita tentang Nabi Adam dan Hawa. Entah dari mana sumbernya. Tuhan menciptakan Nabi Adam di sorga bersama istrinya Siti Hawa. Di dalam sorga terdapat pohon yang bernama “pohon khuldi”. Tuhan berfirman: "Hai Adam, makanlah makanan-makanannya yang banyak dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu makan buah dari pohon khuldi. Karena tergoda iblis, maka dimakanlah buah khuldi itu oleh Siti Hawa dan Nabi Adam. Setelah makan buah itu, maka terbukalah aurat mereka dan mereka telanjang. Karena malu mereka, maka disematkanlah dedaunan untuk menutup auratnya. Ketika Tuhan memanggil mereka. Nabi Adam dan Siti Hawa bersembunyi dibalik semak-semak ditaman.
Setelah saya buka Perjanjian Lama, ternyata sumbernya berasal dari cerita-cerita israiliyat dari Kitab Kejadian 3:6 – 3:10.

3:6. Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya.

3:7 Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat.

3:8 Ketika mereka mendengar bunyi langkah TUHAN Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk, bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadap TUHAN Allah di antara pohon-pohonan dalam taman.

3:9. Tetapi TUHAN Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: "Di manakah engkau?"

3:10 Ia menjawab: "Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi."
Nah, bagaimana menurut Kitab Al Qur’an, apakah Nabi Adam dan Hawa itu terbuka auratnya alias telanjang setelah mendekati dan memakan buah pohon khuldi. Marilah kita simak ayat-ayat berikut ini.

فَأَكَلَا مِنْهَا فَبَدَتْ لَهُمَا سَوْآتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفَانِ عَلَيْهِمَا مِن وَرَقِ الْجَنَّةِ وَعَصَى آدَمُ رَبَّهُ فَغَوَى

Faakala minha fabadat lahuma sawatuhuma watafiqa yakhsifani AAalayhima min waraqi aljannati waAAasa adamu rabbahu faghawa.

“Maka keduanya memakan dari buah pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia.”[QS Thaahaa (20) ayat 121]

فَدَلاَّهُمَا بِغُرُورٍ فَلَمَّا ذَاقَا الشَّجَرَةَ بَدَتْ لَهُمَا سَوْءَاتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفَانِ عَلَيْهِمَا مِن وَرَقِ الْجَنَّةِ وَنَادَاهُمَا رَبُّهُمَا أَلَمْ أَنْهَكُمَا عَن تِلْكُمَا الشَّجَرَةِ وَأَقُل لَّكُمَا إِنَّ الشَّيْطَآنَ لَكُمَا عَدُوٌّ مُّبِينٌ

Fadallahuma bighuroorin falamma thaqa alshshajarata badat lahuma sawatuhuma watafiqa yakhsifani AAalayhima min waraqi aljannati wanadahuma rabbuhuma alam anhakuma AAan tilkuma alshshajarati waaqul lakuma inna alshshaytana lakuma AAaduwwun mubeenun

“, maka syaitan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka: "Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu: "Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?" [ QS Al A'raf (7) ayat 22]

Kalau kita simak arti , سَوْءَاتُهُمَا = Sau ‘atuhuma diterjemahkan oleh Departemen Agama dengan aurat-auratnya. Sebenarnya menurut bahasa “ sau ‘atuhuma” berasal dari kata سَوْء artinya aib, malu, arang dimuka, noda, cemar ( Morfologi Al Qur’an dari SalafiDB 4.0 ). Sedang menurut kamus Al Munawwir سَوْءَاتُ yang artinya perbuatan jahat, keji, aurat.
Menurut bahasa, arti yang lebih mengena adalah perbuatan keji yang tampak dan yang terbuka. Bukan aurat yang tampak atau terbuka. Karena sebenarnya kata “aurat” itu mempunyai arti sendiri dalam bahasa Arab yaitu عَوْرَاتِ النِّسَاء mempunyai makna fisik “aurat wanita” sebagaimana yang dijelaskan dalam QS An Nuur (24) ayat 31 dan “tiga aurat bagi kamu” = ثَلَاثُ عَوْرَاتٍ dalam QS QS An Nuur (24) ayat 58.


وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاء بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاء بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُوْلِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاء وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِن زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Waqul lilmuminati yaghdudna min absarihinna wayahfathna furoojahunna wala yubdeena zeenatahunna illa ma thahara minha walyadribna bikhumurihinna AAala juyoobihinna wala yubdeena zeenatahunna illa libuAAoolatihinna aw abaihinna aw abai buAAoolatihinna aw abnaihinna aw abnai buAAoolatihinna aw ikhwanihinna aw banee ikhwanihinna aw banee akhawatihinna aw nisaihinna aw ma malakat aymanuhunna awi alttabiAAeena ghayri olee alirbati mina alrrijali awi alttifli allatheena lam yathharoo AAala AAawrati alnnisai wala yadribna biarjulihinna liyuAAlama ma yukhfeena min zeenatihinna watooboo ila Allahi jameeAAan ayyuha almuminoona laAAallakum tuflihoona.

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”[QS An Nuur (24) ayat 31]


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِيَسْتَأْذِنكُمُ الَّذِينَ مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ وَالَّذِينَ لَمْ يَبْلُغُوا الْحُلُمَ مِنكُمْ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ مِن قَبْلِ صَلَاةِ الْفَجْرِ وَحِينَ تَضَعُونَ ثِيَابَكُم مِّنَ الظَّهِيرَةِ وَمِن بَعْدِ صَلَاةِ الْعِشَاء ثَلَاثُ عَوْرَاتٍ لَّكُمْ لَيْسَ عَلَيْكُمْ وَلَا عَلَيْهِمْ جُنَاحٌ بَعْدَهُنَّ طَوَّافُونَ عَلَيْكُم بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ 

Ya ayyuha allatheena amanoo liyastathinkumu allatheena malakat aymanukum waallatheena lam yablughoo alhuluma minkum thalatha marratin min qabli salati alfajri waheena tadaAAoona thiyabakum mina alththaheerati wamin baAAdi salati alAAishai thalathu AAawratin lakum laysa AAalaykum wala AAalayhim junahun baAAdahunna tawwafoona AAalaykum baAAdukum AAala baAAdin kathalika yubayyinu Allahu lakumu alayati waAllahu AAaleemun hakeemun.

“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum balig di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari) yaitu: sebelum sembahyang subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian (luar)mu di tengah hari dan sesudah sembahyang Isya'. (Itulah) tiga 'aurat bagi kamu . Tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu . Mereka melayani kamu, sebahagian kamu (ada keperluan) kepada sebahagian (yang lain). Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” [QS An Nuur (24) ayat 58]

Setelah tampak perbuatan jahat dan kejinya, menurut ayat diatas kemudian keduanya menutup dengan daun. Pengertian ditutup dengan daun ini menggambarkan bahwa perbuatan jahat yang dilakukan keduanya bukan perbuatan dirinya tetapi alam-lah yang mendorong keduanya melakukan perbuatan itu. Alam-lah yang dikambing hitamkan telah menyebabkan perbuatan tersebut. Sekali lagi arti yang paling pas adalah tampaknya atau terbukanya perbuatan keji atau perbuatan aniaya. Jadi tidak benar kalau Nabi Adam dan Hawa itu terbuka auratnya alias telanjang .Ini sesuai dengan do’a Nabi Adam setelah perbuatan keji atau aniaya tersebut terbuka, maka mohon ampun kepada Tuhan. Do’anya adalah sebagai berikut :

قَالاَ رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Qala rabbana thalamna anfusana wain lam taghfir lana watarhamna lanakoonanna mina alkhasireena.

“Keduanya berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” [QS l A’raf (7) ayat 23].

Wa llahu ‘alam bish shawab.




Usia Tua itu Takdir, Awet Muda itu Pilihan!





Apakah Anda sudah merasa tua? Pertanyaan inilah yang diajukan berdasarkan jajak pendapat di Belanda terhadap para manula yang usianya sudah diatas 60 tahun. Ternyata lebih dari 80% secara biologis mereka menilai bahwa dirinya masih tetap muda alias belum merasa tua. Mungkin hal ini pulalah yang mendorong negara-negara di Eropa untuk meningkatkan usia batas pensiun dari 65 tahun menjadi 67 tahun. Kapankan seseorang bisa dinilai sebagai manula/lansia (manusia lanjut usia)? Apakah pada saat ia mulai punya cucu, ataukah pada saat rambutnya mulai beruban?

Maka dari itulah juga sampai dengan saat ini para ahli sendiri masih memperdebatkan kapan seseorang bisa dikategorikan sebagai lansia.

Berdasarkan Wordl Health Organization (WHO) mereka mengelompokan lanjut usia sebagai berikut:
- Lansia Dini – Middle Agge (45 – 59 Tahun
- Lansia – Erderly (60 – 74 tahun)
- Lansia Tua – Old (75 – 90 tahun)
- Lansia Sangat Tua – Very Old (91 tahun keatas)

Di kolong langit sekarang ini sudah lebih dari 200 ribu orang yang usianya diatas 100 tahun. Yang terbanyak di Amerika Serikat – 96.000 orang, kedua di Jepang 40.390 orang. Walaupun demikian harus diingat bahwa penduduk Amerika dua kali lipat jauh lebih banyak daripada penduduk Jepang. Terbuktikan, bahwa wanita pada umumnya usianya jauh lebih panjang daripada pria. 86% pendudukan Jepang yang usianya diatas 100 tahun adalah kaum perempuan.

Tidak bisa dipungkiri bahwa menjadi tua itu sudah merupakan takdir dari sononya, tetapi menjadi tetap awet muda itu adalah pilihan yang ditentukan oleh diri kita sendiri. Otak kitalah yang menentukan apakah kita sudah tua ataukah belum? Anda sudah bisa divonis sebagai orang tua, dimana Anda sudah pikun alias tidak bisa berpikir lagi, tetapi selama Anda masih mampu berpikir dengan baik selama itu pula Anda masih bisa dinilai muda. Berdasarkan statistik lebih dari 70% penghuni rumah jompo di Eropa mengidap penyakit pikun

Hanya sayangnya banyak sekali orang yang mau divonis dan ditentukan oleh orang lain, bahwa dirinya itu sudah tua. Misalnya karena rasa kasih yang berlebihan, sehingga orang-orang disekitarnya menganjurkan, bahkan melarang agar mereka tidak melakukan ini dan itu; maupun pergi sendirian. Hal inilah yang sebenarnya menjerumuskan mereka ke dalam jurang kejompoan.

Banyak orang yang memiliki hobby setiap hari membaca iklan kematian untuk mengetahui dalam usia berapa tahun mereka mati. Bahkan pada saat salah satu sahabat atau rekannya meninggal dunia langsung bertanya terhadap diri sendiri, kapankah giliran saya? Sangat disayangkan masa hidup yang sedemikian pendeknya hanya digunakan untuk memikirkan masalah kematian.

Daripada memikirkan tentang kematian lebih baik memikirkan bagaimana bisa membuat hidup ini menjadi lebih hidup. Usia bukanlah batasan bagi seseorang untuk melakukan apapun juga. Terlebih lagi jangan sampai kita mau dibelenggu oleh pikiran sendiri dengan alasan sudah tua, karena Age is Just Only a Number.

Banyak orang baru menemukan bakatnya pada saat mereka sudah tua, entah itu bakat melukis ataupun menulis. Mang Ucup sendiri baru sadar, bahwa saya senang menulis setelah saya berumur diatas 55 tahun. Harry Bernstein mempublikasikan buku pertamanya yang berjudul The Invisible Wall dalam usia 96 tahun.

Ann Nixon Cooper dalam usia 106 tahun masih aktiv dalam politik. Ia adalah salah satu supporter dari Barrack Obama.

Olive Riley adalah blogger tertua ia membuat Blog pertamanya dalam usia 107 tahun.

Arthur Wilson baru mulai menikmati masa pensiun sebagai karyawan dari Los Angelos Metro dalam usia 100 tahun. Bahkan Buster Martin dari England sampai saat ini masih tetap aktiv bekerja, walaupun usianya sudah mencapai 103 tahun.

Penyanyi dan pemain film gaek yang masih tetap aktiv adalah Johannes Heester dari Belanda. Usia dia sekarang telah mencapai 106 tahun. Konsert terakhir ia lakukan dalam usia 105 tahun.

Agama bukan lah sebuah mitos untuk di dongengkan

Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada? Apakah kejahatan itu ada? Apakah Tuhan menciptakan kejahatan? Seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal menantang mahasiswa-mahasiswa nya dengan pertanyaan ini.

"Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?".

Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, "Betul, Dia yang menciptakan semuanya".

"Tuhan menciptakan semuanya?" Tanya professor sekali lagi.

"Ya, Pak, semuanya" kata mahasiswa tersebut.

Profesor itu menjawab,
"Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan Kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan."

Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor tersebut.

Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia telah membuktikan kalau agama itu adalah sebuah mitos.

Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, "Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?"

"Tentu saja," jawab si Profesor

Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, "Profesor, apakah dingin itu ada?"

"Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada. Apakah kamu tidak pernah sakit flu?" Tanya si professor diiringi tawa mahasiswa lainnya.

Mahasiswa itu menjawab,
"Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas."


Mahasiswa itu melanjutkan, "Profesor, apakah gelap itu ada?"

Profesor itu menjawab, "Tentu saja gelap itu ada."

Mahasiswa itu menjawab,
"Sekali lagi anda salah, Pak.Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak."

"Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna."

"Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya."

Akhirnya mahasiswa itu bertanya, "Profesor, apakah kejahatan itu ada?"

Dengan bimbang professor itu menjawab,
"Tentu saja, seperti yang telah kukatakan sebelumnya. Kita melihat setiap hari di Koran dan TV. Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan."

Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab,

"Sekali lagi Anda salah, Pak. Kejahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau gelap, kajahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan."

"Tuhan tidak menciptakan kejahatan. Kejahatan adalah hasil dari tidak hadirnya Tuhan di hati manusia. Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya."

Profesor itu terdiam.

Dan mahasiswa itu adalah,A..............