Mata kuliah ini diampu oleh beliau Dr. M. Fahim Tharaba, M.Pd
Dosen saya yang satu
ini sungguh luar biasa.
Pribadinya lossss
doll..
Saya sangat like jika
pengajar itu bermodel seperti beliau.
Satu kata yang sangat
berkesan, teringat sampai kapanpun “Yooo” + emo-emo comelnya..
Banyak hal yang kami
bahas dalam perkuliahan ini, antara lain :
Tentang radikalisme.
Membahas perkara
radikalisme sebenarnya sangat menarik, membuat hati dan pikiran menjadi lebih
hidup, karena diakui atau tidak bahwa salah
satu penyebab gerakan radikalisme adalah faktor sentimen
keagamaan, termasuk di dalamnya adalah solidaritas keagamaan untuk kawan yang
tertindas oleh kekuatan tertentu.
Beberapa fenomena yang
terjadi, khususnya dinegara kita ini yang namanya radikalisme itu identic dengan
Agama Islam, ada bom di gereja A, ada bom dipulau B, ada teror disana-sini yang
disana KTP pelaku dituliskan beragama islam mau tidak mau islam juga terkena
imbasnya.
Walaupun ada pernyataan
dari beberapa tokoh pemuka Agama Islam yang menyatakan bahwa radikalisme,
terorisme bukan ajaran islam, tapi tidak bisa dipungkiri bahwa mereka semua
adalah orang yang beragama islam, tapi sebenarnya mereka adalah korban dalam
sentiment keberagamaan.
Menelan segala sesuatu
apa adanya, mentah-mentahan. Ibarat kata, kalau mau makan kelapa ya dikupas
dulu, diparut dijadikan santan, enak dibuat bumbu sayur.
Tapi mereka yang sudah
taqlid buta pada imamnya ini sudah gelap mata. Mau makan kelapa ya langsung
dimakan sama batok dan sepetnya, ini bodoh namanya.
Ada beberapa polemik
bagi saya terkait “CAP” radikal untuk mereka yang mungkin berbeda imam dengan
saya.
Yang pertama,.Jika ada sebuah kelompok yang anggotanya diberi
titah untuk meledakkan bom bunuh diri (anggotanya saja yang bunuh diri,
pimpinannya tidak) itu merupakan kelompok radikal?.
Yang kedua, Apakah kelompok atau individu yang
sering menuding kafir, atau menyalahkan praktek ibadah orang lain yang berbeda
dengan praktek ibadah yang dia lakukan, bisa dikatakan radikal?
Ataukah radikal adalah
yang memaksakan kehendaknya kepada orang lain dengan kekerasan fisik dan
Verbal?
Mungkin teman-teman
yang membaca coretan ini dapat memberikan masukannya.
Kemudian tentang kemajuan teknologi.
Diakui ataupun tidak Internet sangat luar
biasa.
Ia telah mengubah cara
pandang orang-orang terhadap kehidupan.
Dalam aktifitas apapun
termasuk didalamnya aktivitas belanja. Kini belanja bisa dilakukan di mana saja
berkat banyaknya platform jual beli di internet. Semakin ke sini pula, semua
produk semakin mudah didapat karena perusahaan e-commerce terus memutakhirkan
layanan di platformnya.
Terdapat beberapa
perbedaan dalam proses jual beli secara konvensional dan jual beli secara
online salah satunya adalah “MUTU PRODUK YANG DITRANSAKSIKAN”, jika proses
konvensional sangat mudah untuk mengetahuinya karena disana berprinsip ada uang
ada barang, namun bagaimana dengan proses jual beli secara online yang notabene
konsumen belum melihat barang yang akan ditransaksikan?
Selebihnya saya sangat
sepakat perbisnisan online ini digalakkan, karena sebagai salah satu pemerataan
ekonomi juga, bayangkan sekitar 10-15 tahun yang lalu, perbisnisan, perniagaan
hanya dikuasai oleh perusahaan itu-itu saja, dan sekarang perusahaan-perusahaan
tersebut banyak yang harus berbagi rezekinya dengan emak-emak berdaster, luar
biasa bukan.
Dan beberapa waktu
terakhir ini didunia “maya” sudah berkembang tanpa dapat di tahan
perkembangannya bisnis-bisnis virtual yang sangat sulit dijelaskan atau
diterima oleh akal sehat begitu saja.
Yang terbaru adalah
mata uang virtual sejenis BTC atau bitcoin yang harga 1 koinnya berates-ratus
juta.
Sebelumnya ada bisnis
investasi online seperti UI, MMM, JSS, JBP, trading forex dan masih banyak lagi
yang lainnya.
Sepuluh tahun yang
lalu saya bahkan pernah bergabung dengan salah duanya, namun dikarenakan hal
ini dan itu walhasil berakhir scam.
Tapi kita tidak boleh
menutup mata dengan perkembangan semacam ini, kita sebagai generasi milenial
harus siap dengan tantangan yang ada pada masa 4.0 ini karena sebentar lagi
kita pun akan menyambut masa 5.0 seperti pada materi yang disampaikan pada
modul terdahulu.
Kemudian, saya sangat ingin mengajak rekan-rekan yang
membaca coretan ini untuk berdiskusi beberapa hal, antara lain :
Yang pertama, saya akan mengajak teman-teman untuk
berbicara tentang gender.
Kalimat utama dalam
gender adalah kesetaraan.
Sejauh yang saya
pahami kesetaraan gender bukan berarti menuntut perempuan untuk menjadi sama
dengan lelaki, tetapi mendukung perempuan dan lelaki agar mendapat kesempatan
untuk ada dalam posisi yang sejajar dalam beberapa hal yang tidak bertentangan
dengan syariat Aama.
Namun diakui maupun
tidak, fakta dilapangan lebih banyak menempatkan perempuan berada pada posisi
kedua setelah laki-laki, dalam banyak hal, walaupun banyak statemen dari para
pakar utamanya pakar gender yang sudah menjelaskan secara rinci bahwa posisi
seorang laki-laki dan perempuan itu sama, yang membedakan dihadapan Tuhan
adalah Iman dan Taqwanya.
Namun ada aspek kultur
patriarki yang selalu memposisikan perempuan pada second line dalam banyak
keadaan, utamanya dikalangan menengah kebawah.
Menanggapi fenomena
tersebut diatas, bagaimana cara menyampaikan dengan bahasa yang sesederhana
mungkin supaya masyarakat awam paham akan pentingnya kesetaraan gender ini ?
karena terjun langsung dalam lingkungan masyarakat itu sedikit agak berbeda
dengan teori fakultatif.
Yang kedua, berbicara tentang cadar. Saya bukan orang yang
fanatik tidak menyukai/menerima jika ada muslimah yang memakai cadar, dan juga
bukan pendukung bahwa seorang muslimah harus bercadar. Namun sejauh pengetahuan
saya, kita sebagai seorang muslim harus menjaga aurat demi kemaslahatan baik
diri kita sendiri maupun khalayak.
Dan dewasa ini memakai
cadar itu identik dengan kalimat hijrah.
Sedikit yang ingin
saya haturkan adalah bahwa dikhalayak tidak sedikit masyarakat yang memaknai
bahwa hijrah itu ya memakai pakaian yang serba longgar, blus panjang, bahkan
sampai bercadar, dan yang kelihatan cuma kelopak matanya saja.
Padahal, hemat saya
hijrah itu sebuah usaha dari hati untuk menjadi lebih baik.
Bagaimana
sahabat-sahabt sekalian menanggapi fenomena ini?
Yang ketiga, terkait tentang LGBT bagi saya sebenarnya rasanya gimana gitu,
Naudzubillah semoga kita, keluarga kita, keturunan kita tidak ada yang
sedemikian, saya mempunyai pertanyaan ringan terkait hal ini yakni dapatkah
saya mengetahui apa bedanya mereka yang masuk dalam kategori LGBT ini?
Karena kita juga tidak
bisa semudahnya menganggap mereka (laki-laki) yang feminism masuk dalam kategori
ini.!
Catatan akhirya bahwa Penddikan Agama Islam tidak hanya berkutat pada perkara-perkara jadul.
Tapi Pendidikan Agama Islam selalu berkembang, menyesuaikan dengan kebutuhan ke-kinian.
So...
Berbicara Agama tidak melulu bicara tentang dalil.Jzk
