Mata kuliah yang ketiga ini diampu oleh beliau Dr. H. Syuhadak, M.A
Secara umum, perkembangan dapat didefinisikan sebagai perubahan
yang progesif dan berkesinambungan yang terjadi di dalam diri individu mulai
dari lahir sampai mati, baik menyangkut fisik maupun psikis. Istilah
perkembangan biasanya tidak dipisahkan dari pertumbuhan dan kematangan.
Pertumbuhan lebih pada aspek fisik dan biologis, sementara kematangan merupakan
puncak dari pencapaian dari proses pertumbuhan dan perkembangan.
Kemudian yang dimaksud peserta didik sebagaimana yang tertuang
dalam UU No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yakni setiap
manusia yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran
pada jalur pendidikan baik pendidikan formal maupun pendidikan non formal, pada
jenjang pendidikan dan jenis pendidikan tertentu.
Peserta didik merupakan raw material (bahan mentah dalam proses
transformasi pendidikan karena ia akan dididik sedemikian rupa sehingga menjadi
manusia yang mempunyai intelektual tinggi dan akhlak yang mulia.
Psikologi Perkembangan Peserta Didik merupakan bidang kajian
psikologi perkembangan yang secara khusus mempelajari aspek-aspek perkembangan
individu yang berada pada tahap usia sekolah dasar dan menengah (Desmita,
2012). Proses perkembangan dengan proses belajar mengajar memiliki hubungan
yang erat. Sebagaimana pendapat Syah (2003) bahwa keduanya memiliki benang
merah yang erat sehingga hampir tidak ada proses perkembangan siswa baik
jasmani maupun rohaninya yang sama sekali terlepas dari proses belajar mengajar
sebagai pengejawantahan proses pendidikan. Apabila fisik dan mental sudah
matang, panca indera sudah siap menerima stimulus-stimulus dari lingkungan,
berarti kesanggupan siswa pun sudah tiba.
Menurut Djamarah (2002) bahwa salah satu penyebab utama
kegagalan seorang guru dalam menjalankan tugas mengajar di depan kelas adalah
kedangkalan pengetahuan guru terhadap siapa anak didiknya dan bagaimana cara
belajarnya, sehingga setiap tindakan pembelajaran yang diprogramkan justru
lebih banyak kesalahan daripada kebenaran dari kebijakan yang diambil. Winkel
(2009) menyimpulkan kaitan antara belajar dan perkembangan bahwa belajar
melandasi sebagian besar dari perkembangan. Yang sebagian besar meliputi
perkembangan psikis/mental dalam berbagai aspeknya. Selain itu, adanya tahap
perkembangan tertentu, berpengaruh terhadap apa yang dapat dipelajari dan
dengan cara bagaimana harus dipelajari.
Apalagi saat ini, telah datang sebuah generasi dimana segala hal
yang bersifat maya akan terlihat virtual karena kecanggihan teknologi. Para
peserta didik kini lebih mudah mengakses segala informasi tanpa terbatas.
Informasi dapat berpindah dari satu tempat ke belahan dunia lain dalam waktu
yang sangat singkat menggunakan internet. Begitu pula dengan produk kecanggihan
teknologi yang lain bernama “game” yang kini menyerang peserta didik kita,
bahkan membuat mereka kecanduan. Dalam beberapa kasus, hal itu bisa
mempengaruhi perkembangan mereka mulai dari fisik psikomotorik, emosi dan
sosial, moral dan spritual serta menghambat perkembangan kognitif mereka.
Dalam pendidikan Islam, menurut Muhtar Yahya (Arief, 2002) bahwa
salah satu prinsip penggunaan metode pendidikan Islam adalah Mura’tul Isti’dad
Wa Thab’i dimana sebuah prinsip yang sangat memperhatikan pembawaan dan
kecenderungan anak didik. Dengan memperhatikan prinsip ini, maka metode yang
digunakan pun adalah metode yang dapat disesuaikan dengan pembawaan dan
kecenderungan tersebut.
Oleh karena itu, penting bagi para pendidik untuk dibekali
pengetahuan tentang perkembangan peserta didik. Secara khusus, dapat dijelaskan
manfaat perkembangan peserta didik, yakni:
1 Pendidik mampu
memahami bahwa setiap peserta didik berbeda sehingga dapat dilakukan pendekatan
yang tepat sesuai dengan karakteristik perkembangannya.
2 Pendidik dapat
memahami aspek-aspek perkembangan peserta didik dan mampu mengaplikasikan model
pembelajaran yang tepat berdasarkan aspek-aspek perkembangan peserta didik
tersebut.
3 Pendidik dapat
memahami dan mampu membuat perangkat evaluasi berdasarkan pertimbangan
perkembangan peserta didik.
4 Studi
perkembangan dapat membantu pendidik memahami diri sendiri. Hal itu disebabkan
karena para pendidik juga mendapatkan wawasan dan pemahaman perjalanan hidup
sesuai yang dijalaninya mulai kanak-kanak sampai dewasa.
Hal yang sangat penting berikutnya adalah bahwa yang
bertanggungjawab terhadap keberlangsungan proses pendidikan yang pertama adalah
keluarga, dalam hal ini orang tua, namun secara formal lembaga sekolah berperan
penuh terhadap keberhasilan proses pendidikan yang dijalankan. Jadi keluarga
mendukung proses pembelajaran baik di pendidikan usia dini, dasar, menengah dan
seterusnya.
Nah, kalau ada orangtua yang berpikiran bahwa pendidikan itu
seratus persen adalah tanggungjawab pihak lembaga sekolah ini jelas tidak bisa
dibenarkan secara mutlak.
Karena sekolah 100 persen bertanggungjawab dari segi formalitas,
untuk sisi yang lain harus berkolaborasi dengan orang tua dan masyarakat.
Pola pikir seperti ini jika dibiarkan saja, maka semakin lama
akan tumbuh pemikiran dari masyarakat bahwa orang tua hanya berperan memberikan
materi kepada anaknya dan untuk hal-hal yang lain utamanya yang berkaitan
dengan proses asupan ilmu pengetahuan adalah tanggungjawab lembaga pendidikan.
Dan endingnya, jika anaknya tidak mendapatkan hasil yang
orangtua inginkan ketika bersekolah dilembaga tersebut, maka lembaga
tersebutlah yang akan disalahkan.
Terkait dengan pendidikan karakter
Secara garis besarnya deskripsi tentang kondisi pendidikan
karakter di Negara kita dalam menghadapai era baru sedang berusaha mewujudkan
generasi milenial yang berkarakter yang mampu menyesuaikan diri dengan era
globalisasi.
Saya kira semua sudah sangat paham bahkan memahami bahwa
globalisasi sudah merambah kedalam semua lini, kedalam semua sendi kehidupan.
Mudahnya mendapatkan akses media sosial sebagai salah satu ciri
khas era 4.0 yakni menggunakan media internet dalam kehidupan.
Sangat banyak sisi positifnya, namun juga tidak sedikit sisi
negatifnya.
Pergaulan bebas.
Transaksi hal-hal terlarang dan masih banyak efek negatif lainnya.
Semua orang seakan merasa bangga ketika dengan mudah mendapatkan
akses internet. Walaupun dilihat dari sisi penggunaanya terkadang bukan pada
hal yang penting.
Penyebaran berita-berita hoaks pun sangat sulit untuk
diminimalisirkan.
Ini adalah PR buat kita bersama sebagai salah satu
kepanjangtanganan untuk menyampaikan pesan moral kepada generasi kita, jika
ingin generasi milenial yang dapat bersaing dengan Negara-negara yang lain.
Bukan hanya mengawal generasi-generasi hedonis, yang hanya akan
menjadi sampah peradaban.
Karena kita semua punya harapan 10 tahun mendatang 70% generasi
milenial mampu bersaing dan mampu membawa Negara kita dalam kemajuan.
Sebagai catatan terakhir dari mata kuliah ini :
Pretest saya mendapat nilai dibawah kkm, namun Alhamdulillah
karena beliau pak dosen Dr. H. Syuhadak, M.A sangat sabar dan sangat luar biasa
dalam menyampaikan materi dan memberikan pendampingan, maka pada test akhir
modul nilai saya termasuk dalam kategori memuaskan.
Terimakasih yang tak terhingga saya haturkan untuk beliau Dr. H.
Syuhadak, M.A, semoga kebaikan-kebaikan selalu Allah limpahkan kepada beliau.
Aamiin…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar