Senin, 06 Desember 2021

PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK


Mata kuliah yang ketiga ini diampu oleh beliau Dr. H. Syuhadak, M.A

Secara umum, perkembangan dapat didefinisikan sebagai perubahan yang progesif dan berkesinambungan yang terjadi di dalam diri individu mulai dari lahir sampai mati, baik menyangkut fisik maupun psikis. Istilah perkembangan biasanya tidak dipisahkan dari pertumbuhan dan kematangan. Pertumbuhan lebih pada aspek fisik dan biologis, sementara kematangan merupakan puncak dari pencapaian dari proses pertumbuhan dan perkembangan.

Kemudian yang dimaksud peserta didik sebagaimana yang tertuang dalam UU No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yakni setiap manusia yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran pada jalur pendidikan baik pendidikan formal maupun pendidikan non formal, pada jenjang pendidikan dan jenis pendidikan tertentu.

Peserta didik merupakan raw material (bahan mentah dalam proses transformasi pendidikan karena ia akan dididik sedemikian rupa sehingga menjadi manusia yang mempunyai intelektual tinggi dan akhlak yang mulia.

Psikologi Perkembangan Peserta Didik merupakan bidang kajian psikologi perkembangan yang secara khusus mempelajari aspek-aspek perkembangan individu yang berada pada tahap usia sekolah dasar dan menengah (Desmita, 2012). Proses perkembangan dengan proses belajar mengajar memiliki hubungan yang erat. Sebagaimana pendapat Syah (2003) bahwa keduanya memiliki benang merah yang erat sehingga hampir tidak ada proses perkembangan siswa baik jasmani maupun rohaninya yang sama sekali terlepas dari proses belajar mengajar sebagai pengejawantahan proses pendidikan. Apabila fisik dan mental sudah matang, panca indera sudah siap menerima stimulus-stimulus dari lingkungan, berarti kesanggupan siswa pun sudah tiba.

Menurut Djamarah (2002) bahwa salah satu penyebab utama kegagalan seorang guru dalam menjalankan tugas mengajar di depan kelas adalah kedangkalan pengetahuan guru terhadap siapa anak didiknya dan bagaimana cara belajarnya, sehingga setiap tindakan pembelajaran yang diprogramkan justru lebih banyak kesalahan daripada kebenaran dari kebijakan yang diambil. Winkel (2009) menyimpulkan kaitan antara belajar dan perkembangan bahwa belajar melandasi sebagian besar dari perkembangan. Yang sebagian besar meliputi perkembangan psikis/mental dalam berbagai aspeknya. Selain itu, adanya tahap perkembangan tertentu, berpengaruh terhadap apa yang dapat dipelajari dan dengan cara bagaimana harus dipelajari.

Apalagi saat ini, telah datang sebuah generasi dimana segala hal yang bersifat maya akan terlihat virtual karena kecanggihan teknologi. Para peserta didik kini lebih mudah mengakses segala informasi tanpa terbatas. Informasi dapat berpindah dari satu tempat ke belahan dunia lain dalam waktu yang sangat singkat menggunakan internet. Begitu pula dengan produk kecanggihan teknologi yang lain bernama “game” yang kini menyerang peserta didik kita, bahkan membuat mereka kecanduan. Dalam beberapa kasus, hal itu bisa mempengaruhi perkembangan mereka mulai dari fisik psikomotorik, emosi dan sosial, moral dan spritual serta menghambat perkembangan kognitif mereka.

Dalam pendidikan Islam, menurut Muhtar Yahya (Arief, 2002) bahwa salah satu prinsip penggunaan metode pendidikan Islam adalah Mura’tul Isti’dad Wa Thab’i dimana sebuah prinsip yang sangat memperhatikan pembawaan dan kecenderungan anak didik. Dengan memperhatikan prinsip ini, maka metode yang digunakan pun adalah metode yang dapat disesuaikan dengan pembawaan dan kecenderungan tersebut.

Oleh karena itu, penting bagi para pendidik untuk dibekali pengetahuan tentang perkembangan peserta didik. Secara khusus, dapat dijelaskan manfaat perkembangan peserta didik, yakni:

1        Pendidik mampu memahami bahwa setiap peserta didik berbeda sehingga dapat dilakukan pendekatan yang tepat sesuai dengan karakteristik perkembangannya.

2        Pendidik dapat memahami aspek-aspek perkembangan peserta didik dan mampu mengaplikasikan model pembelajaran yang tepat berdasarkan aspek-aspek perkembangan peserta didik tersebut.

3        Pendidik dapat memahami dan mampu membuat perangkat evaluasi berdasarkan pertimbangan perkembangan peserta didik.

4        Studi perkembangan dapat membantu pendidik memahami diri sendiri. Hal itu disebabkan karena para pendidik juga mendapatkan wawasan dan pemahaman perjalanan hidup sesuai yang dijalaninya mulai kanak-kanak sampai dewasa.

 

Hal yang sangat penting berikutnya adalah bahwa yang bertanggungjawab terhadap keberlangsungan proses pendidikan yang pertama adalah keluarga, dalam hal ini orang tua, namun secara formal lembaga sekolah berperan penuh terhadap keberhasilan proses pendidikan yang dijalankan. Jadi keluarga mendukung proses pembelajaran baik di pendidikan usia dini, dasar, menengah dan seterusnya.

Nah, kalau ada orangtua yang berpikiran bahwa pendidikan itu seratus persen adalah tanggungjawab pihak lembaga sekolah ini jelas tidak bisa dibenarkan secara mutlak.

Karena sekolah 100 persen bertanggungjawab dari segi formalitas, untuk sisi yang lain harus berkolaborasi dengan orang tua dan masyarakat.

Pola pikir seperti ini jika dibiarkan saja, maka semakin lama akan tumbuh pemikiran dari masyarakat bahwa orang tua hanya berperan memberikan materi kepada anaknya dan untuk hal-hal yang lain utamanya yang berkaitan dengan proses asupan ilmu pengetahuan adalah tanggungjawab lembaga pendidikan.

Dan endingnya, jika anaknya tidak mendapatkan hasil yang orangtua inginkan ketika bersekolah dilembaga tersebut, maka lembaga tersebutlah yang akan disalahkan.

 

Terkait dengan pendidikan karakter

Secara garis besarnya deskripsi tentang kondisi pendidikan karakter di Negara kita dalam menghadapai era baru sedang berusaha mewujudkan generasi milenial yang berkarakter yang mampu menyesuaikan diri dengan era globalisasi.

Saya kira semua sudah sangat paham bahkan memahami bahwa globalisasi sudah merambah kedalam semua lini, kedalam semua sendi kehidupan.

Mudahnya mendapatkan akses media sosial sebagai salah satu ciri khas era 4.0 yakni menggunakan media internet dalam kehidupan.

Sangat banyak sisi positifnya, namun juga tidak sedikit sisi negatifnya.

Pergaulan bebas.

Transaksi hal-hal terlarang dan masih banyak efek negatif lainnya.

Semua orang seakan merasa bangga ketika dengan mudah mendapatkan akses internet. Walaupun dilihat dari sisi penggunaanya terkadang bukan pada hal yang penting.

Penyebaran berita-berita hoaks pun sangat sulit untuk diminimalisirkan.

Ini adalah PR buat kita bersama sebagai salah satu kepanjangtanganan untuk menyampaikan pesan moral kepada generasi kita, jika ingin generasi milenial yang dapat bersaing dengan Negara-negara yang lain.

Bukan hanya mengawal generasi-generasi hedonis, yang hanya akan menjadi sampah peradaban.

Karena kita semua punya harapan 10 tahun mendatang 70% generasi milenial mampu bersaing dan mampu membawa Negara kita dalam kemajuan.

Sebagai catatan terakhir dari mata kuliah ini :

Pretest saya mendapat nilai dibawah kkm, namun Alhamdulillah karena beliau pak dosen Dr. H. Syuhadak, M.A sangat sabar dan sangat luar biasa dalam menyampaikan materi dan memberikan pendampingan, maka pada test akhir modul nilai saya termasuk dalam kategori memuaskan.

Terimakasih yang tak terhingga saya haturkan untuk beliau Dr. H. Syuhadak, M.A, semoga kebaikan-kebaikan selalu Allah limpahkan kepada beliau. Aamiin…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar