Manajemen dan kepemimpinan dalam Islam merupakan suatu tanggung jawab yang berat hingga banyak orang menjauhinya karena merasa tidak mampu. Memegang tanggung jawab dalam Islam bukanlah salah satu alat untuk mencapai kedudukan, bukan pula alat untuk memperoleh kemuliaan, tidak pula diidentikkan dengan kedudukan atau jabatan. Tanggung jawab manajemen dan kepemimpinan dalam Islam merupakan ujian bagi para pemegang kekuasaan dan menjadi inspirasi bagi orang-orang yang mempunyai pemikiran. Pemimpin adalah orang yang berat tanggung jawab dan risikonya. Nabi SAW bersabda: “Pemimpin adalah orang yang berat hutangnya dan agama adalah penebusnya.” (Al-Mu’jam Juz II, 1943: 290)
Pengertian kepemimpinan menurut pandangan Islam sudah jelas, terutama menurut para ulama salaf. Sejarah peradaban umat Islam telah lama membuktikan pemahaman terhadap kepemimpinan dan manajemen. Dalam pidatonya yang pertama, pemimpin Islam Umar bin Khattab, setelah diangkat menyatakan: “Sesungguhnya Allah menguji kalian lewat aku dan aku diuji lewat kalian. Wahai manusia, saya ini hanya seperti kalian. Seandainya saya tidak menginginkan masalah kepemimpinan (menjadi pengganti) Rasulullah maka saya tidak akan mengikuti urusan kalian.” (Al-Thabari, 1326 H: 20) Manajemen dan kepemimpinan menurut Umar adalah ujian, dan ujian itu berat bagi orang yang bertanggung jawab. Masa kepemimpinan bukan berarti keistimewaan dan harta benda. Lewat kalimat, “aku hanyalah seperti kalian” Umar menyatakan bahwa ia menerima kepemimpinan karena terpaksa dan untuk memenuhi keinginan dari Khalifah Rasulullah SAW, yaitu Abu Bakar al-Shiddiq sebagai suatu kewajiban dan beban.
Manajemen dalam Islam adalah pengabdian. Seorang sahabat berkata: “Pemimpin suatu kaum adalah budak mereka.” Manajemen juga merupakan pengasuhan, pendidikan, dan bimbingan. Umar berkata pada rakyatnya: “Wahai manusia, demi Allah, sesungguhnya aku tidak mengutus pegawai-pegawai untuk memukul kulit kalian dan tidak untuk mengambil harta kalian, tetapi aku utus mereka untuk mengajarkan agama dan jalan lurus bagi kalian. Maka barang siapa yang mengerjakan sesuatu yang lain dari hal itu tadi, adukanlah padaku. Maka demi Allah yang jiwa Umar berada di tangan-Nya, aku akan menghukumnya.” (Al-Thabari, 1326 H: 20)
Selama manajemen merupakan pengabdian, pengasuhan, pendidikan, dan bimbingan, maka tidak akan dijadikan pemimpin seorang yang diktator atau orang-orang yang mengambil keuntungan darinya dan memanfaatkannya, atau menindas dengan perantara kepemimpinannya. Para ulama salaf telah berpaling dari kedudukan ini dan mereka tidak memberikan kedudukan bagi orang yang memintanya atau mendekatinya untuk memperolehnya. Diriwayatkan bahwa Umar bin Khattab RA tidak jadi mengangkat seseorang yang sebelumnya ingin dijadikannya sebagai pegawai setelah orang tersebut meminta jabatan. Umar berkata kepadanya: “Demi Allah, sebenarnya aku menginginkanmu untuk menduduki jabatan tersebut, tapi barang siapa yang meminta jabatan maka dia tidak bisa membantunya.” (Ibnu ‘Abdi Rabbihi, 1316 H Juz I: 24)
Dapat diambil kesimpulan dari hal di atas bahwa filsafat manajemen dalam Islam berupa tanggung jawab yakni ujian yang diberikan kepada pemimpin karena besarnya beban dan beratnya tanggungan baginya. Manajemen merupakan tanggung jawab, pengabdian, dan pengasuhan, bukan kekuasaan atau kedudukan. Sesungguhnya kepemimpinan dictator tidak bisa dijadikan pelajaran dan usahanya yang tamak dalam kepemimpinannya akan menimbulkan keraguan bagi orang-orang di sekelilingnya mengenai hakikat dan tujuan dari kekuasaannya. (‘Ali Abu Hilalah, makalah yang tidak diterbitkan)
ASAS MANAJEMEN ISLAMI
Asas-asas manajemen islami adalah sebagai berikut:
A. Asas musyawarah; asas ini merupakan asas yang paling pokok dalam manajemen Islam dengan berbagai tingkatannya. Dalam Al-Qur’an, musyawarah disebut dalam Surah al-Syura: 38 (و امرهم شورى بينهم) “…dan urusan mereka diputuskan dengan musyawarah di antara mereka…”
dan Surah Ali ‘Imran: 159 (و شاورهم في الٲمر) “…dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu…”
Hal ini diperkuat dengan hadita-hadits Nabi, sebagaimana sabda beliau: “Bahwa Tuhanku telah meminta pendapatku tentang umatku.” (Ahmad bin Hanbal 5, 393 al-Mu’jam (1943 M) Juz III: 212), dan “Jika salah seorang meminta pendapat saudaranya maka hendaklah saudaranya memberi pendapat.” (Ibnu Majah, Adab 37 al-Mu’jam 1943 M, Juz II: 212) Ini bukan hanya kata-kata, tapi Rasulullah SAW dalam prakteknya selalu memakai prinsip musyawarah. Abu Hurairah RA berkata: “Aku tidak melihat seorang pun yang banyak meminta pendapat teman-temannya daripada Rasulullah SAW.” (Al-Tabari 1323 H, Juz I: 192)
Ini dikuatkan oleh kejadian-kejadian dalam perjalanan hidup Nabi. Rasulullah SAW bermusyawarah dalam Perang Badar, begitu pula dalam Perang Uhud, dan menarik kembali kesepakatan yang hampir membunuh beliau pada Perang Khandaq sesuai pendapat tentara Islam, al-Ghiyari.
Dan para khalifah setelah Rasulullah SAW juga menjalankan prinsip musyawarah. Abu Bakar al-Siddiq mendirikan sebuah majlis untuk bermusyawarah guna membahas permasalahan yang tidak ada dalil yang jelas dalam Al-Qur’an dan hadits, sedangkan Umar bin Khattab RA mengumpulkan para sahabat di Madinah dan melarang mereka keluar kota karena mereka adalah anggota parlemen. (Al-‘Idad, 1969: 8)
B. Asas ikut bertanggung jawab; manajemen yang islami tidak mempercayai kediktatoran manajer atau pemimpin. Pemimpin tidak dianggap sebagai satu-satunya penanggung jawab tapi semua adalah penanggung jawab. Rasulullah SAW bersabda: “Setiap orang dari kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin harus bertanggung jawab atas rakyatnya; imam adalah seorang pemimpin dan bertanggung jawab atas rakyatnya; dan seorang laki-laki adalah pemimpin dalam keluarganya dan bertanggung jawab atas keluarganya; dan seorang perempuan di rumah suaminya aadalah pemimpin dan bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya; dan pembantu adalah pemimpin (penjaga) harta tuannya dan bertanggung jawab atas apa yang dijaganya; dan setiap orang dari kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin harus bertanggung jawab atas rakyatnya.” (Al-Bukhari Juz I M, al-Mu’jam Juz II, 1943: 273)
Tidak diragukan lagi bahwa seorang manajer atau pemimpin adalah penanggung jawab, akan tetapi orang yang dipimpin juga ambil bagian dalam tanggung jawab tersebut. Mereka bertanggung jawab untuk membantu pemimpin dalam membawa beban beratnya sebagaimana mereka juga bertanggung jawab untuk menasihati pemimpin berdasarkan musyawarah yang murni untuknya. Dan penanggung jawab tidak bisa memaksa dan menghakimi orang lain kecuali jika dia bisa meluluhkan mereka dengan kelemahlembutan. Disebutkan dala Al-Qur’an al-Karim tentang pemaksaan dan penguasaan Fir’aun yang dilakukan dengan meminta keringanan dari rakyatnya, “…Fir’aun meminta keringanan dari kaumnya sehingga mereka mematuhinya.”
Tanggung jawab dalam Islam merupakan kewajiban setiap individu, bukan dibebankan pada salah seorang saja, sehingga setiap orang wajib memikul tanggungjawabnya masing-masing dan menjalankan kewajibannya itu dengan penuh kekuatan dan percaya diri.
C. Asas menyerahkan kekuasaan dan perbaikan; asas ini terlihat jelas dalam praktek-praktek yang dicontohkan Rasulullah dengan meminta tolong kepada para sahabatnya dalam mengelola negara Islam saat itu. Rasulullah membagi tanggung jawab dan kewenangan pada para sahabat. Asas ini pun telah kuat mengakar pada praktek pemerintahan al-Khulafa’ al-Rasyidun sepeninggal Rasulullah SAW. Khalifah Umar bin Khattab menulis surat untuk Ubaidah ketika meminta pendapat nya mengenai pertemuan dengan orang-orang Persia. Surat itu berbunyi, “Kamu yang menyaksikan dan saya tidak. Orang yang menyaksikan melihat apa yang tidak dilihat oleh orang yang tidak menyaksikan.” (Al-‘Iqad, 1969: 106)
Kitab-kitab sejarah tidak meninggalkan keraguan mengenai penerapan asas ini dalam berbagai masa pemerintahan Islam. Harun al-Rasyid menulis surat kepada perdana menterinya, Yahya bin Khalid al-Barmaki: “Aku serahkan urusan rakyat kepadamu dan telah aku keluarkan dari leherku kepadamu, maka memerintahlah dengan apa yang kamu lihat benar dan pakailah siapa saja yang kamu lihat cocok dan turunkanlah siapa saja yang kamu lihat tidak cocok, dan selesaikanlah perkara-perkara dengan pendapatmu.” (Sulaiman al-Thahawi, 1965: 129)
D. Asas teladan yang baik; seorang manajer dalam Islam adalah contoh bagi orang yang bekerja dengannya. Al-Qur’an al-Karim mengecam orang-orang yang menjual perkataan sebagai barang dagagan dalam Surah al-Shaf: 2-3;
(يا ٲيها الذين آمنوا لم تقولو مالا تفعلون(۲) كبر مقتا عند الله ٲن تقولوا مالا تفعلون(۳)
“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?! (2) Sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”
Melalui sebuah contoh yang baik, manajemen Islam berhasil dalam mengumpulkan dukungan orang-orangnya. Rasulullah SAW adalah suri tauladan dalam hal kebaikan jiwa dan pengorbanan, suri tauladan dalam kerendahhatian dan kesabaran, suri tauladan dalam sopan santun berbicara, suri tauladan dalam keberanian dan kesabaran dalam menghadapi musuh. Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib RA, beliau berkata: “Ketika kami sangat sedih atau sedang sakit maka kami minta perlindungan kepada Rasulullah SAW. Tidak ada seorang pun yang lebih dekat dengan musuh daripada Rasulullah SAW.” (Muhammad Faraj, Bila: 273)
Sesuatu yang mengesankan dilakukan Umar bin Khattab RA dalam masa pemerintahannya. Bila Khalifah Umar mengeluarkan perintah untuk rakyatnya, beliau mengumpulkan keluarga dan anak-anaknya dan mengumumkan perintah tadi disertai ancaman jika mereka melanggarnya sehingga tidak ada alasan bagi orang-orang untuk melanggarnya. (Al-‘Iqad, 1969: 106) Tidak diragukan lagi akan kesesuaian tindakan pemimpin ini dengan apa yang dikatakannya. Mencontohkan hal itu pada prakteknya mempersiapkan lingkungan yang sehat untuk saling percaya antara pemimpin dan rakyatnya dan menambah kesempatan untuk saling memahami di antara mereka dan hal ini dengan sendirinya menghalangi orang-orang jahat yang ingin menghancurkan kekuatan masyarakat. Bertambahnya saling pengertian antara pemimpin dan rakyat juga mempererat hubungan mereka dan memperlancar tujuan-tujuan kepemimpinan tersebut.
E. Asas politik terbuka; jika manajemen modern mengeluhkan rusaknya hubungan di dalam (organisasi)-nya dan menderita penyakit dalam birokrasi dalam menjalankan urusannya, maka sesungguhnya manajemen Islam menetapkan langkah-langkah untuk mengatasinya dengan cara memudahkan komunikasi antara pemimpin dan bawah, dan memperbaiki semua jalan yang memungkinkan untuk mewujudkan hal itu. Rasulullah SAW bersabda: “Allah memperbaiki dan memberi nikmat pada para pemimpin yang mendengarkan kita dan menyampaikannya. Sesungguhnya banyak orang yang apabila disampaikan sesuatu kepadanya lebih paham dari orang yang menyampaikan.” (Ibnu Majah, Muqaddimah: 18; al-Bukhari, Fitan: 8, Ilm: 9, Haji: 133; al-Tirmidzi, Ilm: 7; al-Darimi: Muqaddimah: 34; dan Ahmad bin Hanbal: 5, 29, 45, 49, 72; Mu’jam Alfadz al-Hadits al-Nabawi Juz I cetakan Leiden, 1936: 316) Begitu pula dari wasiat-wasiat Umar RA bagi salah satu bawahannya: “Bukalah pintumu untuk mereka dan selesaikanlah urusan mereka olehmu sendiri secara langsung. Sesungguhnya kamu adalah bagian dari mereka, kecuali bahwa Allah menjadikan bebanmu lebih berat daripada beban mereka.” (Al-‘Iqad, 1969: 111)
Manajemen Islam pun memperhitungkan “kecacatan” hubungan dalam suatu organisasi, khususnya hubungan antara asas dengan nilai, karena itu para pemimpin Islam segera berkomunikasi dengan rakyat mereka untuk dapat mengetahui masalah-masalah mereka. Diriwayatkan bahwa Umar RA berkata, “Selama aku hidup, insyaallah aku akan menjalankan pemeliharaan negara karena sesungguhnya aku tahu bahwa orang-orang punya kebutuhan yang tidak bisa terpenuhi tanpa kehadiranku. Pegawai-pegawai mereka tidak menyerahkan perkara-perkara mereka kepadaku dan mereka tidak berkomunikasi denganku, lalu aku pergi ke Syam dan tinggal di sana selama dua bulan, lalu aku pergi ke Jazirah dan tinggal di sana selama dua bulan, lalu aku pergi ke Mesir dan tinggal di sana selama dua bulan, lalu aku pergi ke Kufah dan tinggal di sana selama dua bulan, lalu aku pergi ke Basrah dan tinggal di sana selama dua bulan, demi Allah inilah sebaik-baik tahun.” (Al-Syaikh Abdul Hayy al-Kattani, bila: 267)
Kesadaran ini telah berjalan dalam pribadi mayoritas kaum muslim dan mereka tidak kesulitan dalam mengadukan penindasan yang mereka alami kepada khalifah. Kisah al-Qibti dan Ibnu Amru bin al-Ash dan kisah Amir al-Ghassani Jablah ibnu al-Aiham dan orang Badui merupakan cerita yang terkenal begitu pula dengan para saksinya yang nyata mengenai komunikasi yang cepat antara pemimpin dan rakyatnya dan hakim yang cepat dalam menyelesaikan perkara-perkara yang dialami rakyat dan dalam menetapkan kebenaran. Manajemen Islam pun melakukan pembaharuan dengan mendirikan “ديوان المظالم” (departemen urusan kezhaliman; semacam lembaga perlindungan hak asasi rakyat) untuk melihat (menyelidiki/mengetahui) kezhaliman yang dialami rakyat dan menindak masalah tersebut. (Ali bin Muhammad al-Mawardi, 1357H: 66)
F. Asas hubungan sesama manusia; hubungan antara pemimpin dan rakyat dalam Islam berdiri atas dasr kemanusiaan, maka tidak ada pemaksaan atau peninggian, tidak ada pula pembedaan dan perampasan hak milik. Rasulullah SAW adalah orang yang paling menjaga orang-orang mukmin. Allah berfirman:
لقد جاءكم رسول من ٲنفسكم عزيز عليه ما عنتّم حريص عليكم بالمؤمنين رءوف رحيم
“Sungguh telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman.” (QS al-Taubah: 128)
Islam memberikan hak-hak asasi manusia dan menghargainya tanpa memandang kemuliaan, keturunan, kaya-miskin, maupun kedudukan dalam pekerjaannya. Manusia terhormat karena dua hal: pertama karena dia adalah manusia, dan kedua karena ketakwaannya. Allah berfirman:
يا ٲيها الناس ٳنا خلقناكم من ذكر و ٲنثى و جعلناكم شعوبا و قباءل لتعارفوا ۗۗ
ٳنّ ٲكرمكم عند الله ٲتقاكم
“Wahai manusia, sunguh Kami telah menciptakan kami dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.” (QS al-Hujurat: 13)
Dalam ayat di atas tidak dikatakan bahwa manusia terhormat karena kemuliaan keturunannya atau yang paling banyak hartanya atau yang paling tinggi martabatnya. Hal ini bukan sekedar semboyan yang dielu-elukan atau pemikiran yang kosong dalam praktek, akan tetapi memang benar-benar diterapkan dalam berbagai pemerintahan Islam. (Ali Abu Hilalah, malakah yang tidak disebarluaskan)
Al-Qur’an al-Karim telah menunjukkan dengan jelas mengenai pentingnya memperlakukan manusia secara manusiawi dengan didasari kasih sayang dan kelembutan. Allah berfirman dalam QS Ali Imran 159:
فبما رحمة من الله لنت لهم ۚۚ ولو كنت فظّا غليظ القلب لانفضّوا من حولك ۖ فاعف عنهم واستغفر لهم و شاورهم في اﻷمر ۚ فٳذا عزمت فتوكّل على الله ۗ ٳنّ الله يحب المتوكلين۰
“Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan berusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad maka bertawakkallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakkal.”
Inilah sebagian dari asas-asas dalam manajemen yang jika kita mendalaminya kita akan menemukan akar-akar, prinsip-prinsip dan pemahaman-pemahaman yang lebih dulu dibandingkan pandangan manajemen modern dan bahkan lebih baik dari manajemen modern.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar