Jumat, 13 Januari 2012

Ideologi Pendidikan


Belakangan ini saya digelisahkan oleh pertanyaan yang terus memburu: pendidikan macam apa yang melahirkan pemuda seperti Soekarno, Hatta, Tan Malaka, Sjahrir atau Haji Agus Salim. Sekolah seperti apa yang kemudian meluluskan anak-anak muda yang punya pikiran raksasa dan tindakan besar. Sebab zaman dimana mereka tumbuh adalah masa dimana kolonialisme primitif sedang tumbuh begitu kejam dan keras. Masa itu dunia sedang mengalami pertarungan ideologi yang keras dan pertempuran yang tak henti antar berbagai negara. Pemuda-pemuda itu tumbuh tidak di masyarakat yang sudah mengalami kemajuan pendidikan tetapi di tengah iklim feodalisme yang masih mencekik. Dalam usia yang masih belasan tahun mereka punya pikiran yang melampaui batas-batas geografis negeri, dan bahkan pada usia 20-an ada banyak diantara mereka yang menjadi pemimpin pergerakan.
Sekolah seperti apa yang mampu mencetak pemuda semacam mereka? Saya ingin kutipkan sekolah guru yang diikuti oleh Tan Malaka pada tahun 1895: -Setiap hari para murid harus belajar dari pukul 8 sampai pukul 17 dengan istirahat dua jam pada tengah hari. Juga pada hari rabu sore dan sabtu sore bel baru berbunyi pukul 5. Tetapi setiap hari diadakan satu jam gerak badan. Jumat pagi di lapangan dan pada Rabu sore dan Sabtu sore dilakukan pekerjaan tangan (kayu, karton dan tanah liat) Mata pelajaran yang terpenting adalah bahasa Belanda. Mata pelajaran lain: berhitung, ilmu ukur, mengukur tanah, ilmu bumi, sejarah pribumi, ilmu alam (yang dianggap penting untuk melenyapkan takhayul), ilmu hayat, ilmu hewan, ilmu tumbuh-tumbuhan (sebuah kebun di pekarangan belakang sekolah dipakai dalam mata pelajaran ini, yang membicarakan masalah penyuluhan pertanian) ilmu pendidikan, menggambar, menulis dan menyanyi… mereka tinggal di asrama dengan syarat yang ditentukan, dan ‘mereka pun harus menyeka bersih ruang depan dan pinggiran-pinggiran selokan’-
Kita kemudian tahu, dalam sejarah kelak Tan Malaka adalah salah satu pencetus sekolah SI yang sangat anti kolonial dan itu sebabnya sekolah itu dipaksa tutup oleh Belanda. Sekolah guru (kweekscholl), dimana Tan Malaka sempat mendapat pendidikan, resmi dibuka pada bulan April 1852 dengan batas usia murid yang diterima 14-17 tahun dan mereka harus berasal dari keluarga baik-baik. Perkembangan paling pesat dalam pendidikan di masa kolonial adalah dibuatnya UU Pendidikan yang merupakan rancangan dari kaum Liberal yang dikomandoi oleh Menteri Jajahan van de Putte . Tak cukup dengan itu, pada tahun 1869 pembiayaan sekolah yang merupakan tanggungan sekolah, sejak 1869 oleh Raja Belanda ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah. Sikap politik Belanda mengalami perubahan besar ketika kaum liberal memenangkan pertarungan politik dengan menempatkan Mr JH Abendanon sebagai Direktur Pendidikan dan Industri (1900-5) dan A.W.F Idenburg sebagai menteri Jajahan (1902-5)
Abendanon kemudian sangat terkenal dengan konsep pendidikan bagi ibu Jawa, yang kelak akan memunculkan perempuan besar, Kartini. Hasrat untuk menjangkau Barat itulah yang kemudian dirumuskan dalam sekolah kolonial di masa itu dan kebijakan politik etis memang membuka kesempatan bagi banyak pribumi untuk mencicipi sekolah Barat. Tapi bukan tidak ada kritik atas pendidikan kolonial saat itu. Haji Agus Salim adalah seorang diantara banyak tokoh pergerakan yang beranggapan bahwa pendidikan kolonial hanya meluluskan manusia-manusia budak yang kelak akan berhamba pada sistem penjajah. Di tahun 1912 Haji Agus Salim mendirikan sebuah sekolah HIS (Hollandsche Inlandsche Scholl) di Kota Gedang sebagai petunjuk kalau dirinya tak setuju dengan model pendidikan kolonial. Tak hanya dengan itu, dididiknya anak-anak Agus Salim dengan caranya sendiri dan sejarah mengetahui bagaimana kecerdasan anak-anak Salim.
Dalam bahasa yang lebih ringkas, pendidikan pada masa-masa itu merupakan cara untuk menegaskan dimana posisi kita! Itu pulalah yang kemudian membangun hubungan antara murid dan guru bukan semata-mata fungsional melainkan ideologis. Sukarno misalnya, mengenal Marxisme bukan dari buku melainkan guru HBS-nya yang bernama C Hartogh. Ia seorang guru bahasa Jerman sekaligus anggota dari Indische Social-Democratische Vereeniging (ISDV) yang menjadi embrio bagi gerakan kiri. Paling tidak ada tiga mahaguru politik etis yang memang kemudian memberi banyak pengaruh pada kaum pergerakan, yakni: Ch Snouck Hurgronje, C van Vollehnoven dan G.A. J Hazeu. Ketiganya itulah yang mulai memandang pendidikan bukan saja sebagai upaya untuk menstransfer pengetahuan melainkan juga taktik bagi kaum pergerakan. Pendidikan, pada masa itu adalah, upaya pembebasan. Makanya Sjahrir dan Hatta kemudian mendirikan gerakan yang bernama: Pendidikan Nasional Indonesia, yang tujuanya: pertama-tama hendak mendidik, dan dengan demikian memetakan jalan menuju kemerdekaan… karenanya tujuan pendidikan, bukanlah ‘untuk menciptakan agitasi’ melainkan untuk ‘membawakan kejernihan’.
Kilasan historis ini membawa kita pada jawaban mengapa pendidikan mampu mencetak manusia-manusia besar itu tadi. Pendidikan adalah pembebasan dari belenggu penindasan maupun kepercayaan yang naif. Kutipan Sjahrir diatas menjelaskan bagaimana sesungguhnya ideologi pendidikan kita itu berdiri: pendidikan, kata Sjahrir: pertama memperbaiki hidup lebih dulu, dan kemudian menunjukkan sikap panutan, kemudian membangkitkan kekuatan dan semangat rakyat dan rela mengorbankan kepentingan diri sendiri. Tujuan ideologis pendidikan itulah yang hari-hari ini begitu kita prihatinkan. Silang-sengketa masalah pendidikan makin hari makin kerdil dari tujuan utama pendidikan: urusan soal kesejahteraan, ongkos sekolah, bangunan sekolah yang buruk, siswa yang tidak lulus dan buku pelajaran yang meluapkan kasus korupsi telah memadamkan peran pendidikan dari tujuan utama: pembebasan. Mengerikan menyaksikan pendidikan berjalan tanpa sandaran ideologis bahkan tidak melahirkan peserta didik yang mampu berpikir dan bertindak besar.
Yang menonjol misalnya dalam perumusan buku pelajaran. Buku sejarah hanya menyorongkan citra sejarah. Kelemahanya yang paling berat adalah diproyeksikannya masa sekarang ke dalam masa lampau secara tetap. Kedua pelajaran sejarah hampir tanpa teori sehingga pelajaran sejarah menjadi berat, karena daya imajinasi-kesadaran serta citra sejarah-tidak dihidupkan. Itu sebabnya pelajaran sejarah banyak sekali menghidupkan mithos-mithos yang sering dimanfaatkan untuk kegunaan taktis politik . Buku pelajaran hampir tidak mengenalkan gambaran tentang realitas, apalagi dengan mengandalkan soal-soal yang sepenuhnya hapalan. Buku pelajaran yang didesain tidak menarik, tanpa ada lukisan kenyataan yang imaginatif dan kurang menampung berbagai perkara-perkara masyarakat akan menumpulkan nalar berpikir peserta didik dan tidak mendorong sikap berpihak mereka. Sedikit upaya dilakukan oleh guru tetapi itu selalu menambang gugatan dari beberapa pihak yang dirasa menganggu.
Hal yang sama pula pada methode pengajaran yang sifatnya masih mengkonfirmasi. Beberapa methode baru yang ditawarkan nyatanya hanya berlaku pada beberapa lembaga pendidikan mahal dan selalu membutuhkan pembiayaan tinggi. Penghambaan pada kekuasaan didorong sedemikian rupa dalam dunia pendidikan kita melalui, pembelajaran bahwa keluarga dan jaringan perluasanya merupakan dasar bagi kehidupan mereka, dan bahwa hubungan-hubungan itulah yang membentuk bangsa. Bangsa dan keluarga kemudian tak bisa dibedakan secara lugas, bahkan kekuasaan dengan keluarga kemudian batasanya begitu tipis. Itu sebabnya pendidikan kemudian memunculkan para terdidik yang kadang susah membedakan antara kepentingan umum dengan kepentingan keluarganya sendiri. Alumni pendidikan pada masa Orde Baru, diantaranya adalah mereka yang mencicipi kursi kekuasaan sekarang ini. Tanpa pandangan besar, picik terhadap perbedaan, tidak tahu malu pada keadaan rakyat dan kurang terdidik.
Jika kita ingin melampaui apa yang sudah dihasilkan oleh pendidikan kolonial, maka mandat pendidikan bukan lagi mencerdaskan akan tetapi berpihak pada kepentingan luas rakyat. Hendaknya pendidikan mengembalikan fungsi pembebasan dan keberpihakan, bukan hanya memenuhi kepentingan-kepentingan pasar. Tak bisa lagi pendidikan hanya meluluskan anak-anak yang sekedar memenuhi nilai ujian nasional, tetapi juga mampu untuk merumuskan dan mengartikulasikan tuntutan-tuntutan lingkunganya dalam bahasa yang lebih sistematis dan segar. Ideologi pendidikan memang tak bisa ditemukan hanya dalam bunyi undang-undang melainkan dihidupkan dalam pratek-praktek pembelajaran. Guru merupakan salah satu sendi bagaimana hidupnya ideologi keberpihakan dalam dunia pendidikan dan pemerintah merupakan tiang utama penyangganya. Sudah barang tentu jangan bertanya banyak tentang apa saja yang dilakukan oleh pemerintah dalam soal pendidikan, karena kita tahu sendiri, pendidikan bukan soal yang menarik diurus! Mencari basis ideologi Pendidikan bukan hanya mengharuskan kita untuk berkaca pada masa lalu melainkan juga meraba ‘keinginan’ kita terhadap pendidikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar