RENUNGAN AKHIR TAHUN
Oleh : M Bakhyul Khayi M.Pd.I
Dalam beberapa hari mendatang ini, sekiranya umur kita masih tersisa Insya Allah kita akan memasuki dalam edaran Tahun Baru 1431 Hijriyah.
Sepertinya kita selalu merasa optimis bahwa kematian kita seakan akan masih jauh, sekalipun tetangga bersebelahan baru saja meninggal, kawan akrab kita telah dipanggil oleh Allah SWT namun masih juga kita yakin bahwa giliran kita masih lama. Pada hal nasib kita semua, hanya Allah SWT sajalah Yang Maha Mengetahuinya.
Menjelang Tahun Baru Hijriyah ini perkenankanlah saya mengajak hadirin semuanya, khususnya diri saya sendiri untuk bersama sama ” Tafakkur ” Sejenak Menghisab diri sebelum ajal tiba menjemput kita.
Kalau kita mau meneliti dan menjelajahi peredaran hidup ini, maka benarlah apa kata pepatah arab ” السّـنّ يزداد والعمر ينقص “ Tahun-tahun kehidupan selalu bertambah sedangkan umur manusia semakin berkurang.
Memang...Kalau boleh diibaratkan hidup kita ini tak ubahnya bagaikan ” Lampu Teplok ” Dari menit ke menit nyalanya semakin redup, karena berkurangnya jumlah minyak sebagi sumber nyala lampu itu.
Umur yang dikaruniakan Allah Kepada Kita, menurut kadar tertentu : bertambah lama kita hidup berarti makin berkuranglah sisa umur kita. Tinggal menunggu berapa lama lagikah jatah kita hidup di dunia ini. Yang jelas kita tidak akan bisa menambah nyawa dan memperpanjang umur yang telah ditentukan oleh Allah SWT. Tidak akan terjadi manusia dapat hidup dua kali di dunia ini.
Marilah kita perhatikan alam sekitar kita... Awan terus bergerak, pindah dari satu tempat ke tempat yang lain, Alam ini terus berubah. Bahkan kita sebagai manusiapun akan berubah pula, semula dari mulai lahir kita kecil, kemudian beranjak remaja dan menjadi dewasa akhirnya jadilah kita orang tua yang tinggal menunggu jemputan sang ajal tiba.
Secara berangsur-angsur sebetulnya Allah telah memberi peringatan kepada kita. Diputihkannya rambut kita yang tadinya hitam kelam menjadi beruban, dikuranginya kekuatan mata sehingga kita harus berkaca mata, dicabutinya kekuatan gigi kita yang secara berangsur-angsur hilanglah daya kekuatan makan kita, dicabutinya pula daya kekuatan badan kita, sehingga sebentar-sebentar kita sakit, sebentar-sebentar kita sembuh kemudian sakit lagi... Begitu bijaksananya Allah SWT terhadap kita. Sehingga dicabutinya nyawa kita satu persatu. Firman Allah : " كلّ نفس ذائقة الموت " Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati.
Allah SWT memperingatkan kepada kita, agar kita tidak menyesal di kemudian hari karena tak ada gunanya lagi kita meminta ampun setelah mati. Pernah ada yang menjerit, meminta diperpanjangkan umurnya untuk menebus dosa-dosa yang telah diperbuatnya, namun Allah tidak mengabulkannya. Itu semua sudah terlambat, meskipun mereka berjanji jika umur mereka diperpanjang maka mereka akan tekun beribadah.
Ahli-ahli falsafah mengatakan : Orang yang bijaksana adalah orang yang sanggup menggunakan kesempatan yang ada dengan sebaik-baiknya. Pernah Rasulullah mengingatkan kepada kita semua lewat sabda beliau : Wahai umat Muhammad, Demi Allah seandainya kalian tahu apa yang aku ketahui, niscaya kalian semua akan sedikit tertawa dan akan banyak menangis. Dalam hadits yang lain, beliau menceritakan : ada seorang sahabat beliau dari kaum Anshor bertanya kepada Rasulullah SAW tentang kaum mu’minin yang baik, beliau menjawabnya dengan ungkapan :أكثرهم للموت ذكرا وأحسـنهم لمابعده إسـتعدادا" ” Sebaik baik Orang mu’min adalah orang yang sering ingat akan kematian dan yang lebih baik dari itu adalah orang yang mempersiapkan diri dan mampu membekali dirinya untuk kehidupan setelah mati. Kita harus menyadari bahwa hidup ini ternyata merupakan satu-satunya modal untuk mencari keselamatan dan ikhtiar untuk mencapai kebahagiaan di dunia maupun di akhirat. Oleh karenanya patutkah kalau kita masih bermain-main juga dengan kehidupan ini ? sedangkan masa mengolah modal dalam hidup ini semakin lama semakin sempit dan kian mendesak. Apakah layak kalau kita masih bersikap acuh tak acuh dalam menanggapi masalah yang sangat penting dan sangat serius ini ?
Kemana gerangan iman kita ? Jika hal ini tidak kita camkan dengan baik dan penuh perhatian, dan kitapun tidak melihatnya dengan عين البصيرة yaitu dengan mata hati kita.
Oleh karenannya mulai saat sekarang kita harus pandai mencari kawan yang mampu menolong dan mengantarkan kita sampai di akhirat kelak.
Kita telah terbiasa berkawan dengan manusia, baik itu dengan teman sejawat maupun karib kerabat, namun apa yang terjadi di saat kita berada dalam keadaan سـكرات الموت hanya tangis dan sedu sedan yang mereka lakukan. Waktu kita meninggal, mereka menghantarkan kita hingga ke pemakaman terakhir, di tutupinya dan ditimbuninya kita dengan tanah. Mulai saat itu putuslah hubungan kita dengan mereka dan itulah titik akhir kita ditemaninya, ternyata kasih sayang keluarga dan manusia di sekitar kita sangatlah terbatas. Dibiarkan kita menghadap Allah SWT sendirian untuk mempertanggung jawabkan segala perbuatan kita, dan dosa yang telah kita lakukan. Hanya amal ibadah kita sendiri yang dapat menolong kita kelak di yaumil qiyamah.
Apabila kita berkawan dengan harta, kawan itupun sangat terbatas sekali. Harta hanya berfaidah dikala kita sehat, pada saat sakit harta itu tak ada gunanya sebab tidak dapat kita nikmati, maka kemanfaatannyapun sangat terbatas. Harta yang kita manfaatkan di jalan Allah sajalah yang terbawa menemani kita menghadap Allah SWT sebagai saksi, itulah sebabnya Islam memerintahkan Umatnya untuk berharta, agar dengan hartanya ia dapat lebih leluasa beribadah kepada-Nya.
Semoga Allah SWT menjadikan kita orang-orang yang bertaqwa, yang menyadari akan kekurangan dirinya dan mampu memperbaiki diri ke jalan yang benar, sehingga Allah masih memberikan kesempatan kita untuk bertaubat kepada-Nya, dan kitapun mampu menggunakan umur yang tinggal ini seefesien mungkin dalam mencari Ridho Allah SWT.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar