Selasa, 14 Desember 2021

PAI KONTEMPORER

 


Mata kuliah ini diampu oleh beliau Dr. M. Fahim Tharaba, M.Pd

Dosen saya yang satu ini sungguh luar biasa.

Pribadinya lossss doll..

Saya sangat like jika pengajar itu bermodel seperti beliau.

Satu kata yang sangat berkesan, teringat sampai kapanpun “Yooo” + emo-emo comelnya..

 

Banyak hal yang kami bahas dalam perkuliahan ini, antara lain :

Tentang radikalisme.

Membahas perkara radikalisme sebenarnya sangat menarik, membuat hati dan pikiran menjadi lebih hidup, karena diakui atau tidak bahwa salah satu penyebab gerakan radikalisme adalah faktor sentimen keagamaan, termasuk di dalamnya adalah solidaritas keagamaan untuk kawan yang tertindas oleh kekuatan tertentu.

Beberapa fenomena yang terjadi, khususnya dinegara kita ini yang namanya radikalisme itu identic dengan Agama Islam, ada bom di gereja A, ada bom dipulau B, ada teror disana-sini yang disana KTP pelaku dituliskan beragama islam mau tidak mau islam juga terkena imbasnya.

Walaupun ada pernyataan dari beberapa tokoh pemuka Agama Islam yang menyatakan bahwa radikalisme, terorisme bukan ajaran islam, tapi tidak bisa dipungkiri bahwa mereka semua adalah orang yang beragama islam, tapi sebenarnya mereka adalah korban dalam sentiment keberagamaan.

Menelan segala sesuatu apa adanya, mentah-mentahan. Ibarat kata, kalau mau makan kelapa ya dikupas dulu, diparut dijadikan santan, enak dibuat bumbu sayur.

Tapi mereka yang sudah taqlid buta pada imamnya ini sudah gelap mata. Mau makan kelapa ya langsung dimakan sama batok dan sepetnya, ini bodoh namanya.

Ada beberapa polemik bagi saya terkait “CAP” radikal untuk mereka yang mungkin berbeda imam dengan saya.

Yang pertama,.Jika ada sebuah kelompok yang anggotanya diberi titah untuk meledakkan bom bunuh diri (anggotanya saja yang bunuh diri, pimpinannya tidak) itu merupakan kelompok radikal?.

Yang kedua, Apakah kelompok atau individu yang sering menuding kafir, atau menyalahkan praktek ibadah orang lain yang berbeda dengan praktek ibadah yang dia lakukan, bisa dikatakan radikal?

Ataukah radikal adalah yang memaksakan kehendaknya kepada orang lain dengan kekerasan fisik dan Verbal?

Mungkin teman-teman yang membaca coretan ini dapat memberikan masukannya.

 

Kemudian tentang kemajuan teknologi.

Diakui ataupun tidak Internet sangat luar biasa.

Ia telah mengubah cara pandang orang-orang terhadap kehidupan.

Dalam aktifitas apapun termasuk didalamnya aktivitas belanja. Kini belanja bisa dilakukan di mana saja berkat banyaknya platform jual beli di internet. Semakin ke sini pula, semua produk semakin mudah didapat karena perusahaan e-commerce terus memutakhirkan layanan di platformnya.

Terdapat beberapa perbedaan dalam proses jual beli secara konvensional dan jual beli secara online salah satunya adalah “MUTU PRODUK YANG DITRANSAKSIKAN”, jika proses konvensional sangat mudah untuk mengetahuinya karena disana berprinsip ada uang ada barang, namun bagaimana dengan proses jual beli secara online yang notabene konsumen belum melihat barang yang akan ditransaksikan?

Selebihnya saya sangat sepakat perbisnisan online ini digalakkan, karena sebagai salah satu pemerataan ekonomi juga, bayangkan sekitar 10-15 tahun yang lalu, perbisnisan, perniagaan hanya dikuasai oleh perusahaan itu-itu saja, dan sekarang perusahaan-perusahaan tersebut banyak yang harus berbagi rezekinya dengan emak-emak berdaster, luar biasa bukan.

Dan beberapa waktu terakhir ini didunia “maya” sudah berkembang tanpa dapat di tahan perkembangannya bisnis-bisnis virtual yang sangat sulit dijelaskan atau diterima oleh akal sehat begitu saja.

Yang terbaru adalah mata uang virtual sejenis BTC atau bitcoin yang harga 1 koinnya berates-ratus juta.

Sebelumnya ada bisnis investasi online seperti UI, MMM, JSS, JBP, trading forex dan masih banyak lagi yang lainnya.

Sepuluh tahun yang lalu saya bahkan pernah bergabung dengan salah duanya, namun dikarenakan hal ini dan itu walhasil berakhir scam.

Tapi kita tidak boleh menutup mata dengan perkembangan semacam ini, kita sebagai generasi milenial harus siap dengan tantangan yang ada pada masa 4.0 ini karena sebentar lagi kita pun akan menyambut masa 5.0 seperti pada materi yang disampaikan pada modul terdahulu.

 

Kemudian, saya sangat ingin mengajak rekan-rekan yang membaca coretan ini untuk berdiskusi beberapa hal, antara lain :

Yang pertama, saya akan mengajak teman-teman untuk berbicara tentang gender.

Kalimat utama dalam gender adalah kesetaraan.

Sejauh yang saya pahami kesetaraan gender bukan berarti menuntut perempuan untuk menjadi sama dengan lelaki, tetapi mendukung perempuan dan lelaki agar mendapat kesempatan untuk ada dalam posisi yang sejajar dalam beberapa hal yang tidak bertentangan dengan syariat Aama.

Namun diakui maupun tidak, fakta dilapangan lebih banyak menempatkan perempuan berada pada posisi kedua setelah laki-laki, dalam banyak hal, walaupun banyak statemen dari para pakar utamanya pakar gender yang sudah menjelaskan secara rinci bahwa posisi seorang laki-laki dan perempuan itu sama, yang membedakan dihadapan Tuhan adalah Iman dan Taqwanya.

Namun ada aspek kultur patriarki yang selalu memposisikan perempuan pada second line dalam banyak keadaan, utamanya dikalangan menengah kebawah.

Menanggapi fenomena tersebut diatas, bagaimana cara menyampaikan dengan bahasa yang sesederhana mungkin supaya masyarakat awam paham akan pentingnya kesetaraan gender ini ? karena terjun langsung dalam lingkungan masyarakat itu sedikit agak berbeda dengan teori fakultatif.

 

Yang kedua, berbicara tentang cadar. Saya bukan orang yang fanatik tidak menyukai/menerima jika ada muslimah yang memakai cadar, dan juga bukan pendukung bahwa seorang muslimah harus bercadar. Namun sejauh pengetahuan saya, kita sebagai seorang muslim harus menjaga aurat demi kemaslahatan baik diri kita sendiri maupun khalayak.

Dan dewasa ini memakai cadar itu identik dengan kalimat hijrah.

Sedikit yang ingin saya haturkan adalah bahwa dikhalayak tidak sedikit masyarakat yang memaknai bahwa hijrah itu ya memakai pakaian yang serba longgar, blus panjang, bahkan sampai bercadar, dan yang kelihatan cuma kelopak matanya saja.

Padahal, hemat saya hijrah itu sebuah usaha dari hati untuk menjadi lebih baik.

Bagaimana sahabat-sahabt sekalian menanggapi fenomena ini?

 

Yang ketiga, terkait tentang LGBT bagi saya sebenarnya rasanya gimana gitu, Naudzubillah semoga kita, keluarga kita, keturunan kita tidak ada yang sedemikian, saya mempunyai pertanyaan ringan terkait hal ini yakni dapatkah saya mengetahui apa bedanya mereka yang masuk dalam kategori LGBT ini?

Karena kita juga tidak bisa semudahnya menganggap mereka (laki-laki) yang feminism masuk dalam kategori ini.!


Catatan akhirya bahwa Penddikan Agama Islam tidak hanya berkutat pada perkara-perkara jadul.

Tapi Pendidikan Agama Islam selalu berkembang, menyesuaikan dengan kebutuhan ke-kinian.

So...

Berbicara Agama tidak melulu bicara tentang dalil.Jzk

Selasa, 07 Desember 2021

EVALUASI PEMBELAJARAN

 


Merupakan materi keempat yang diampu oleh beliau Ibu Dr. Elly Susanti, M.Sc

Berikut sekilas catatan saya terkait dengan materi ini.

 

Materi evaluasi pembelajaran adalah materi yang sangat penting untuk kita kuasai.

Dalam materi ini terdapat beberapa hal yang dibahas yakni antara lain:

1.      konsep dan penerapan pengukuran, penilaian, tes dan evaluasi pembelajaran,

2.      Penerapan penilaian authentik,

3.      pengembangan dan pengolahan tes hasil belajar, dan

4.      pelaksanaan program tindak lanjut.

Sangat penting bagi saya dalam mempelajari materi ini karena mengingat saya sebagai pendidik atau guru di dalam pembelajaran harus melakukan evaluasi pembelajaran, antara lain untuk mengetahui  kemajuan perkembangan siswa dalam belajarnya dan menunjang penyusunan rencana pembelajaran berikutnya serta memperbaiki pembelajaran yang ada, selain itu dalam rangka mengetahui dan memenuhi kebutuhan psikologis, didaktik dan administratif.

 

Selengkapnya, dalam mempelajari evaluasi pembelajaran ini diharapkan saya akan mamiliki kemampuan untuk menguasai materi  evaluasi pembelajaran sebagaimana dalam Capaian Pembelajaran   dan Sub Capaian Pembelajaran.

 

Dalam kegiatan pembelajaran yang pertama, saya mengambil sebuah kesimpulan bahwa dalam evaluasi pembelajaran terdapat tiga hal penting yang tidak bisa dipisahkan. tiga hal tersebut yaitu Tes, pengukuran, dan Penilaian.

 

Tes bisa dengan wawancara, Pilihan Ganda ataupun Uraian atau dengan beberapa model lainnya, kemudiaan diberikan pengukuran terhadap hasil dari tes tersebut (hasil tersebut masih hasil mentah atau kuantitatif) dilakukan pengelolaan skor supaya menjadi nilai yang berkualitas.

Kemudian jika hasil dari penilaian tersebut sudah bagus, maka tindak lanjutnya adalah ditingkatkan ke level yang lebih tinggi lagi,

 

Namun jika hasilnya masih kurang ataupun jauh dari yang diharapkan, maka perlu adanya solusi supaya siswa dapat mencapai target yang diharapkan. Dan kita sebagai guru harus seobjektif mungkin dalam memberikan penilaian tersebut.

 

Selanjutnya terdapat sebuah opini dalam video bahwa penilaian yang dilakukan pada zaman dahulu yang dilaksanakan secara mereka-reka,.

 

Bahkan penilaian ini mungkin yang dulu diberikan oleh beliau-beliau guru kita ketika menilai diri kita ketika kita sekolah dulu. Dan itu real, bahkan ada dari beberapa subjek beliau guru yang memberikan nilai bukan hanya mereka-reka biasa saja, tapi banyak diantara beliau-beliau itu yang menilai berdasarkan kecenderungan subjektifitas, banyak faktornya, mungkin karena takut sama orang tuanya, mungkin karena masih saudaranya, dan lain sebagainya.

 

Nah ini sangat menjadi masalah karena ternyata tidak bisa objektif, penilaian sekehendak guru saja.

 

Hal ini cenderung berbalik dengan teori yang sekarang ada dalam penilaian, yakni penilaian autentik , yang mana disitu ada fakta-fakta proses penilaian dalam pembelajaran.

 

Namun saya pun juga ragu, apakah penilaian ini juga dapat 100 % objektif dalam pelaksanaannya?

 

Kemudian, saya mencoba melihat kedunia nyata, tapi semoga tidak keluar dari materi yang kita bahas.

 

Dalam suasana pandemi seperti yang kita alami saat ini, pembelajaran kita lakukan secara daring.

 

Ada sebuah polemik yang terjadi dilapangan, yakni dulu ketika kita belum melakukan pembelajaran dan penilaian secara daring, masih pembelajaran tatap muka ada anak yang kemampuannya biasa-biasa saja (dan ini bisa kita buktikan secara langsung), bahkan ketika penilaian nilainya selalu dibawah KKM dan harus selalu diberikan remidi dalam setiap KD yang dipelajari.

 

Namun ketika dilakukan pembelajaran secara daring anak tersebut dilihat dari hasil nilainya berbalik seratus delapan puluh derajad.

 

Dia selalu melawati batas minimum, bahkan dapat dikategorikan dalam skala A.

Bagaimanakah sikap bijak seorang guru dalam menghadapi perihal semacam ini ?

Hal yang tidak menyalahi prosedur dan tetap bisa objektif?

Nah, hal tersebut diatas adalah beberapa hal yang harus dicarikan solusinya secara objektif.

 

Sebagai catatan akhir, Bu Dr Elly ini sangat luar biasa dalam penyampaian materi, detil sekali dari ujung kuku sampai ujung rambut.

Dan Alhamdulillah untuk masalah nilai (walaupun bukan prioritas utama bagi saya) nilai saya untuk mata kuliah beliau selalu maksimal.

Terimakasih ibu…

  

M. Bakhyul Khayi

Senin, 06 Desember 2021

PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK


Mata kuliah yang ketiga ini diampu oleh beliau Dr. H. Syuhadak, M.A

Secara umum, perkembangan dapat didefinisikan sebagai perubahan yang progesif dan berkesinambungan yang terjadi di dalam diri individu mulai dari lahir sampai mati, baik menyangkut fisik maupun psikis. Istilah perkembangan biasanya tidak dipisahkan dari pertumbuhan dan kematangan. Pertumbuhan lebih pada aspek fisik dan biologis, sementara kematangan merupakan puncak dari pencapaian dari proses pertumbuhan dan perkembangan.

Kemudian yang dimaksud peserta didik sebagaimana yang tertuang dalam UU No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yakni setiap manusia yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran pada jalur pendidikan baik pendidikan formal maupun pendidikan non formal, pada jenjang pendidikan dan jenis pendidikan tertentu.

Peserta didik merupakan raw material (bahan mentah dalam proses transformasi pendidikan karena ia akan dididik sedemikian rupa sehingga menjadi manusia yang mempunyai intelektual tinggi dan akhlak yang mulia.

Psikologi Perkembangan Peserta Didik merupakan bidang kajian psikologi perkembangan yang secara khusus mempelajari aspek-aspek perkembangan individu yang berada pada tahap usia sekolah dasar dan menengah (Desmita, 2012). Proses perkembangan dengan proses belajar mengajar memiliki hubungan yang erat. Sebagaimana pendapat Syah (2003) bahwa keduanya memiliki benang merah yang erat sehingga hampir tidak ada proses perkembangan siswa baik jasmani maupun rohaninya yang sama sekali terlepas dari proses belajar mengajar sebagai pengejawantahan proses pendidikan. Apabila fisik dan mental sudah matang, panca indera sudah siap menerima stimulus-stimulus dari lingkungan, berarti kesanggupan siswa pun sudah tiba.

Menurut Djamarah (2002) bahwa salah satu penyebab utama kegagalan seorang guru dalam menjalankan tugas mengajar di depan kelas adalah kedangkalan pengetahuan guru terhadap siapa anak didiknya dan bagaimana cara belajarnya, sehingga setiap tindakan pembelajaran yang diprogramkan justru lebih banyak kesalahan daripada kebenaran dari kebijakan yang diambil. Winkel (2009) menyimpulkan kaitan antara belajar dan perkembangan bahwa belajar melandasi sebagian besar dari perkembangan. Yang sebagian besar meliputi perkembangan psikis/mental dalam berbagai aspeknya. Selain itu, adanya tahap perkembangan tertentu, berpengaruh terhadap apa yang dapat dipelajari dan dengan cara bagaimana harus dipelajari.

Apalagi saat ini, telah datang sebuah generasi dimana segala hal yang bersifat maya akan terlihat virtual karena kecanggihan teknologi. Para peserta didik kini lebih mudah mengakses segala informasi tanpa terbatas. Informasi dapat berpindah dari satu tempat ke belahan dunia lain dalam waktu yang sangat singkat menggunakan internet. Begitu pula dengan produk kecanggihan teknologi yang lain bernama “game” yang kini menyerang peserta didik kita, bahkan membuat mereka kecanduan. Dalam beberapa kasus, hal itu bisa mempengaruhi perkembangan mereka mulai dari fisik psikomotorik, emosi dan sosial, moral dan spritual serta menghambat perkembangan kognitif mereka.

Dalam pendidikan Islam, menurut Muhtar Yahya (Arief, 2002) bahwa salah satu prinsip penggunaan metode pendidikan Islam adalah Mura’tul Isti’dad Wa Thab’i dimana sebuah prinsip yang sangat memperhatikan pembawaan dan kecenderungan anak didik. Dengan memperhatikan prinsip ini, maka metode yang digunakan pun adalah metode yang dapat disesuaikan dengan pembawaan dan kecenderungan tersebut.

Oleh karena itu, penting bagi para pendidik untuk dibekali pengetahuan tentang perkembangan peserta didik. Secara khusus, dapat dijelaskan manfaat perkembangan peserta didik, yakni:

1        Pendidik mampu memahami bahwa setiap peserta didik berbeda sehingga dapat dilakukan pendekatan yang tepat sesuai dengan karakteristik perkembangannya.

2        Pendidik dapat memahami aspek-aspek perkembangan peserta didik dan mampu mengaplikasikan model pembelajaran yang tepat berdasarkan aspek-aspek perkembangan peserta didik tersebut.

3        Pendidik dapat memahami dan mampu membuat perangkat evaluasi berdasarkan pertimbangan perkembangan peserta didik.

4        Studi perkembangan dapat membantu pendidik memahami diri sendiri. Hal itu disebabkan karena para pendidik juga mendapatkan wawasan dan pemahaman perjalanan hidup sesuai yang dijalaninya mulai kanak-kanak sampai dewasa.

 

Hal yang sangat penting berikutnya adalah bahwa yang bertanggungjawab terhadap keberlangsungan proses pendidikan yang pertama adalah keluarga, dalam hal ini orang tua, namun secara formal lembaga sekolah berperan penuh terhadap keberhasilan proses pendidikan yang dijalankan. Jadi keluarga mendukung proses pembelajaran baik di pendidikan usia dini, dasar, menengah dan seterusnya.

Nah, kalau ada orangtua yang berpikiran bahwa pendidikan itu seratus persen adalah tanggungjawab pihak lembaga sekolah ini jelas tidak bisa dibenarkan secara mutlak.

Karena sekolah 100 persen bertanggungjawab dari segi formalitas, untuk sisi yang lain harus berkolaborasi dengan orang tua dan masyarakat.

Pola pikir seperti ini jika dibiarkan saja, maka semakin lama akan tumbuh pemikiran dari masyarakat bahwa orang tua hanya berperan memberikan materi kepada anaknya dan untuk hal-hal yang lain utamanya yang berkaitan dengan proses asupan ilmu pengetahuan adalah tanggungjawab lembaga pendidikan.

Dan endingnya, jika anaknya tidak mendapatkan hasil yang orangtua inginkan ketika bersekolah dilembaga tersebut, maka lembaga tersebutlah yang akan disalahkan.

 

Terkait dengan pendidikan karakter

Secara garis besarnya deskripsi tentang kondisi pendidikan karakter di Negara kita dalam menghadapai era baru sedang berusaha mewujudkan generasi milenial yang berkarakter yang mampu menyesuaikan diri dengan era globalisasi.

Saya kira semua sudah sangat paham bahkan memahami bahwa globalisasi sudah merambah kedalam semua lini, kedalam semua sendi kehidupan.

Mudahnya mendapatkan akses media sosial sebagai salah satu ciri khas era 4.0 yakni menggunakan media internet dalam kehidupan.

Sangat banyak sisi positifnya, namun juga tidak sedikit sisi negatifnya.

Pergaulan bebas.

Transaksi hal-hal terlarang dan masih banyak efek negatif lainnya.

Semua orang seakan merasa bangga ketika dengan mudah mendapatkan akses internet. Walaupun dilihat dari sisi penggunaanya terkadang bukan pada hal yang penting.

Penyebaran berita-berita hoaks pun sangat sulit untuk diminimalisirkan.

Ini adalah PR buat kita bersama sebagai salah satu kepanjangtanganan untuk menyampaikan pesan moral kepada generasi kita, jika ingin generasi milenial yang dapat bersaing dengan Negara-negara yang lain.

Bukan hanya mengawal generasi-generasi hedonis, yang hanya akan menjadi sampah peradaban.

Karena kita semua punya harapan 10 tahun mendatang 70% generasi milenial mampu bersaing dan mampu membawa Negara kita dalam kemajuan.

Sebagai catatan terakhir dari mata kuliah ini :

Pretest saya mendapat nilai dibawah kkm, namun Alhamdulillah karena beliau pak dosen Dr. H. Syuhadak, M.A sangat sabar dan sangat luar biasa dalam menyampaikan materi dan memberikan pendampingan, maka pada test akhir modul nilai saya termasuk dalam kategori memuaskan.

Terimakasih yang tak terhingga saya haturkan untuk beliau Dr. H. Syuhadak, M.A, semoga kebaikan-kebaikan selalu Allah limpahkan kepada beliau. Aamiin…